MASYARAKAT Yogyakarta pasti tidak asing dengan minuman satu ini, wedang uwuh. Minuman yang nikmat diseruput di kala matahari terbit ini menawarkan rasa yang khas di mulut dan tentunya menjadi teman yang setia di pagi hari.
Bicara mengani minuman yang satu ini, Anda mungkin akan kaget pertama kali melihat penampakan minuman ini. Bagaimana tidak, dalam satu cangkir yang cukup besar, Anda akan melihat banyak potongan-potongan batang atau rempah-rempah yang dimasukkan semuanya ke dalam cangkir Anda.
Tenang! Itu bukan sesuatu yang salah, malah di situlah ciri khasnya. Wedang uwuh adalah minuman “sampah” yang tidak bisa dianggap remeh. Sampah di sini bukan sampah dalam definisi yang sesungguhnya, ya. Sampah di sini bermakna semua bahan seperti dimasukkan ke dalam minuman ini dan terlihat sangat “kotor”.
Padahal sebetulnya, “sampah” itu sesuatu yang bisa membuat Anda menjadi lebih sehat. Sebab, “sampah” itu berisikan jahe, kayu secang, bunga cengkeh, batang cengkeh, daun cengkeh, kayu manis, daun kayu manis, pala, daun pala, akar sereh, daun sereh, kapulaga, dan gula batu. Terbayang kan sebegitu banyaknya bahan yang digunakan untuk minuman ini.
Menelisik lebih jauh tentang minuman ini, dalam Bahasa Jawa, wedang berarti minuman. Sedangkan, untuk kata uwuh sendiri itu artinya sampah. Makanya, tidak heran kalau akhirnya minuman ini dijuluki sebagai minuman sampah. Tapi, sekali lagi, sampah di sini tidak berkonotasi jorok, ya.