Studi ini menemukan ada peningkatkan produksi sel epitel usus dan mengembalikan ekspresi protein interleukin-22. Hal ini mencegah mikrobiota usus dari sel epitel yang menyerang.
Peneliti Dr Andrew Gewirtz mengatakan, ada manipulasi kandungan serat makanan. Terutama jika Anda menambahkan serat fermentasi, sebagai penjaga terhadap sindrom metabolik.
Studi ini pada dasarnya dilakukan selama empat minggu. Tim tersebut memberi makan tikus sebagai bahan percobaan.
Diet tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan obesitas, yang terkait dengan sindrom metabolik. Hasilnya menunjukkan bahwa serat selulosa yang tidak larut hanya mengurangi obesitas dan disglycemia secara sederhana. Lebih lengkapnya, penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Cell Host & Microbe.
(Muhammad Saifullah )