MEDIA SOSIAL sedang ramai membahas pro-kontra urin unta. Hal ini dimulai dari pernyataan Ulama Besar Indonesia Bachtiar Nasir yang mengajak umat Islam Indonesia untuk meminum air kencing unta jika mampir ke Mekah dan Madinah. Lalu, tak lama berselang Kementerian Kesehatan RI memberikan pernyataan bahwa hal itu tidak baik untuk kesehatan.
Lalu bagaimana menyikapinya?
Jika Anda umat beragama, mungkin menyikapi hal ini tidak ada salahnya untuk mengkaji ulang bagaimana kandungan urin unta tersebut. Dalil mengenai kencing unta disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
‘Ada sejumlah orang dari suku Uki dan Uranah yang datang menemui Nabi Muhammad SAW. Namun, mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta dan menyuruh mereka untuk minum air kencing unta dan susunya (HR. Bukhari 1501 dan Muslim 4447).’
Mengkaji ulang rasanya tidak salah. Menurut Kepala Komite Fiqh Medis Dr. Ahmad Faidhi Mohd Zaini pada Free Malaysia Today, jika metode pengobatan membawa lebih banyak ruginya daripada manfaat, itu dianggap “haram” dari perspektif Islam.
Faidhi menambahkan bahwa minum air seni unta adalah sebuah praktik yang didasarkan pada pengobatan tradisional Arab dimana tidak dianggap sebagai-Sunnah Tasri'yyah namun hanya sebuah praktik oleh masyarakat Arab kuno.
Salah satu masalah yang dikhawatirkan adalah MERS-CoV atau penyakit pernafasan akut. Kementrian Kesehatan RI juga dalam beberapa kali pernyataannya menjelaskan mengenai penyakit menular ini. Pihaknya juga menyarankan agar jamaah haji untuk tidak berhubungan dengan unta, minum susu unta mentah, atau air kencing dan memakan daging unta yang tidak matang. Hal ini diyakini ada beberapa peziarah yang melakukannya karena manfaat obat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. Ari Fahrial Syam SpPD juga menjelaskan pada Okezone bahwa mengonsumsi urin unta itu tidak sehat. “WHO saja melarangnya dan tidak ada bukti klinis yang terpublikasi dalam jurnal terindeks scopus atau pubmed,” paparnya Rabu (10/1/2018).
Dr. Ari mengutip juga sikap resmi WHO ini dari US News, di mana di sana dijelaskan dengan tegas bahwa WHO melarang manusia mengonsumsi pipis unta. Bahkan, menurut WHO, air kencing itu bisa mengancam jiwa manusia.
Salah satu alasannya adalah unta memiliki potensi virus penyakit MERS yang kuat dan itu menjadi salah satu landasan utama kenapa setiap manusia tidak boleh mengonsumsi urin unta. Tidak hanya urin, WHO juga melarang mengonsumsi susu unta!
WHO menyarankan agar lebih memerhatikan masalah kebersihan dan kehigienisan “obat” yang dianggap ampuh mengobati masalah penyakit kanker itu. Bagaimana pun, air seni dan susu unta itu tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi tubuh manusia. Bahkan, untuk mendekati unta saja dilarang apalagi harus menikmatinya.
“Orang-orang harus menjauhi binatang ini. Sebab, penyebaran virus itu sangat mungkin terjadi,” terang WHO. Pihaknya juga mengungkapkan bahwa pentingnya cuci tangan sebelum dan sesudah berdekatan atau bahkan memegang unta. Siapa yang tahu kalau hewan itu sedang sakit?
(Renny Sundayani)