MALAM pergantian tahun identik dengan perayaan dan pertunjukan kembang api. Di beberapa negara dan kota-kota besar di Indonesia pun bahkan rutin menggelar pertunjukan kembang api.
Namun, salah satu unsur yang ada saat malam pergantian tahun ini belum banyak orang yang mengetahui sejarahnya. Padahal, kembang api telah ada sejak lama dan selalu ada memeriahkan berbagai acara yang dilakukan pada malam hari.
Melansir dari laman Ancient Origins, Sabtu (23/12/2017), sejarah kembang api dimulai dari masa China kuno, karena daerah tersebut lah yang menemukannya. Meski rincian penemuannya hilang dari sejarah, tapi mula-mula orang-orang menggunakan batang bambu kering dan bubuk mesiu yang akan mengeluarkan suara bising saat dibakar dengan api.
(Baca Juga: Libur Natal dan Tahun Baru, Hotel-Hotel di Malang Mulai Diserbu Wisatawan)
Kemudian, pada abad ke-11 masyarakat Tiongkok mulai menggunakan petasan dan kembang api untuk merayakan kunjungan kaisar China. Sementara, di Eropa pada 1377 kembang api dipertunjukkan pada permainan misteri religius oleh istana uskup di Vicenza.
Berlanjut pada abad ke-15, negara seperti Italia dan Spanyol kembang api mulai digunakan untuk menyemarakkan perayaan luar ruangan. Seorang ahli metalurgi Italia bernama Vannoccio Biringuccio menyemarakkan perayaan di Florence dan Siena dengan pertunjukan kembang api.
Kembang api juga digunakan di Jerman untuk memperingati karnaval Schembart di Nuremberg. Saat perayaan itu orang-orang akan berpakaian dengan warna cerah dan berjalan menyusuri kota. Bahkan, dalam sebuah ilustrasi dalam buku, ada satu gambar yang menunjukkan seorang pria mengenakan topi dalam bentuk sebuah kastil dengan kembang api meletup, dan asap keluar dari menara yang ada di atas kepala.