TREN makan bersama dengan alas daun pisang yang memanjang saat ini sedang digilai masyarakat. Namun tahukah Anda bahwa tren ini sebenarnya sudah menjadi tradisi kaum santri sejak dulu?
Tradisi yang sering disebut sebagai liwetan atau bancakan ini dilakukan dengan bersantap makanan bersama di atas lembaran daun pisang. Dalam penyajiannya, nasi akan diletakkan di sepanjang daun pisang. Begitu juga dengan sayur mayur dan lauknya.
OKEZONE WEEK-END: Ini Perbedaan Bentuk serta Manfaat Jahe Merah dan Jahe Biasa
Hal yang membuat bancakan terlihat unik adalah makan dengan menggunakan tangan langsung atau tanpa sendok. Dilansir dari berbagai sumber, makan bersama ini telah menjadi bagian dalam tradisi kehidupan santri baik dalam budaya Sunda maupun Jawa.
Makna yang bisa dapat dari tradisi makan bersama ini adalah nilai kebersamaan dan kesederhanaan. Hal ini juga diungkapkan oleh pakar kuliner William Wongso.
"Filosofinya semua orang tidak ada batasnya, tidak ada perbedaan. Semua makan dari wadah yang sama, bersama-sama. Tidak ada yang bilang, ini lho piring saya, ini piring kamu, tidak ada karena semua bersatu," jelas William Wongso kepada Okezone beberapa waktu lalu.
Dahulu, tradisi ini dilakukan oleh para santri yang sering makan dalam kebersamaan. Hampir semua pesantren di Pulau Jawan menggunakan tradisi bancakan saat makan bersama. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi makan ini juga dilakukan oleh masyarakat urban.
OKEZONE WEEK-END: Alamak, Kemenyan Adalah Rempah Kunci Kelezatan Hidangan...
Kini, tren bancakan di perkotaan sering dilakukan pada acara besar keluarga, acara buka puasa bersama, merayakan acara tertentu bersama teman dan rekan sekantor, hingga acara ulang tahun seperti yang pernah dilakukan oleh Ashanty.
Dengan banyaknya minat masyarakat akan cara makan bancakan, kini Anda bisa mendapatkannya di restoran tertentu. Bahkan, beberapa hotel mewah juga menawarkan paket bancakan untuk para tamunya.