PERAIRAN di depan Gedung Daerah Tanjung Pinang mendadak menjadi pusat perhatian di Jumat 20 Oktober 2017 sore. Ya, warga berkumpul di sepanjang Taman Laman Bunda yang menghadap ke laut untuk menyaksikan kemeriahan 41 perahu tradisional yang tengah berlomba.
Sebanyak 41 perahu tersebut mengikuti Parade Kapal Hias sebagai rangkaian dari Festival Bahari Kepri 2017 yang didukung oleh Kementerian Pariwisata. Para peserta parade ini berasal dari berbagai elemen masyarakat di Tanjung Pinang, ibu kota dari Kepulauan Riau.
Puluhan perahu tersebut dihiasi dengan bendera dari empat warna khas Melayu, yakni kuning, merah, hijau, dan biru. Selain dari segi warna, nilai historis Melayu juga ditampilkan dengan nama-nama pahlawannya, seperti Raja Haji Fisabilillah, Ali Haji, dan Sang Sapurba.
Gelaran Parade Kapal Hias ini merupakan perhelatan tahun ke dua. Bedanya dengan tahun lalu adalah waktu pelaksanaannya. Tahun lalu parade ini dilakukan di malam hari dengan kerlap-kerlip lampu. Sementara tahun ini, parade dilakukan di sore hari sekira pukul 16.00 WIB.
Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun mengatakan bahwa Festival Bahari Kepri digelar untuk menegaskan Indonesia sebagai negeri maritim. Selain itu, Kepri juga memiliki lebih banyak wilayah lautan. Sehingga potensinya terus dikembangkan sebagai tujuan wisata.
"Raja Ali Haji, seorang raja besar adalah pelaut, juragan. Dia menguasai sampai Singapura dan Johor. Jadi ini bentuk sejarah yang harus kita lestarikan. Kegiatan bahari ini dari masyarakat Kepri sendiri," jelas Nurdin saat berbincang dengan Okezone di Taman Laman Bunda, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Jumat 20 Oktober 2017.
Senada dengan gubernur, Walikota Tanjung Pinang, Lis Darmansyah mengatakan bahwa Festival Bahari Kepri digelar untuk mengembalikan filosofi nilai perjuangan kerajaan Melayu.
"Tanjung Pinang dan Kepri adalah kawasan maritim. Sehingga punya latar belakang sejarah yang jarang diungkapkan. Zaman Belanda dulu banyak pejuang Melayu bertempur dengan pasukan armada laut. Tidak sembarang kapal ditampilkan, tapi hanya yang memiliki nilai perjuangan," jelas Lis Darmansyah kepada Okezone.
Animo masyarakat dalam menyaksikan Parade Kapal Hias sendiri selalu besar. Menurut Gubernur Nurdin, masyarakat Kepulauan Riau dikenal senang dengan segala hal berbau pantai.
"Masyarakat dan anak-anak hadir semua di pantai. Makanya kita dorong dari infrastruktur dan fasilitas nyaman dengan taman yang bagus. Pasti akan lebih menarik," jelas Nurdin.
Setelah Parade Kapal Hias, acara dilanjutkan dengan panggung seni budaya pada malam hari. Dalam acara ini, ditampilkan berbagai budaya Melayu. Mulai dari musik, lagu, hingga tari-tarian.
Presiden Penyair Tanjung Pinang, Teja Alhabd juga turut tampil di panggung besar yang berada di depan Gedung Daerah itu. Teja tampil membaca sajak di hadapan ribuan penonton yang hadir.
Setelah pembacaan sajak, acara dilanjutkan dengan tarian kolosal yang menceritakan tentang kekayaan bahari Kepulauan Riau. Tarian ini dibawakan oleh sekira 50 penari laki-laki dan perempuan yang mendapat tepuk tangan meriah dari penonton