FESTIVAL Sungai Carang 2017 hari ini masih terus berlanjut. Sejak pagi masyarakat Tanjung Pinang berkumpul di tepi Sungai Carang.
Mereka menantikan perlombaan perahu naga atau Dragon Boat Race yang tahun ini kembali digelar. Dilaksanakan selama tiga hari dari 20-22 Oktober 2017, perlombaan ini diikuti oleh 42 tim dari berbagai penjuru. Termasuk 5 tim dari Malaysia yang ikut beradu kekuatan dalam mengayuh perahu naga.
Rangkaian Dragon Boat Race dibuka dengan tari persembahan Makan Sirih yang dibawakan oleh 7 penari perempuan yang menggunakan pakaian khas Melayu berwarna merah. Alunan musik bernuansa Melayu mengiringi gerakan gemulai para penari.
(Foto: Utami Evi Riyani/Okezone)
Masyarakat yang telah berkumpul di tepi sungai mulai pun bersorak ketika tim-tim mulai mengayuh perahu naga mereka. Suasana menjadi lebih meriah dengan teriakan-teriakan warga ketika selisih jarak empat tim sangat tipis.
(Foto: Dede Kurniawan/Okezone)
Wali Kota Tanjung Pinang, Lis Darmansyah mengatakan, dragon boat race sebenarnya telah digelar sejak 1992 dengan nama Bintang Dragon Boat Race. Awalnya, perlombaan ini digelar di laut. Namun karena berbagai pertimbangan, acara ini digelar di Sungai Carang sejak 2014.
"Dragon Boat Race lahir dari kegiatan tradisi salah satu etnis di Tanjung Pinang. Acara yang mulanya tradisi kini telah dipoles dan dijadikan agenda tahunan Tanjung Pinang. Sejak 2014 digelar di Sungai Carang dengan standar internasional," jelas Lis Darmansyah di Sungai Carang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Jumat (20/10/2017).
Pemindahan lokasi perlombaan ini dilakukan karena air Sungai Carang dinilai memiliki kelebihan dibanding air laut. Perairan di Sungai Carang lebih tenang karena tidak terganggu dengan gelombang kapal. Sungai ini juga dinilai memiliki jalur lomba yang cukup untuk menggelar pertandingan berstandar internasional.
Selain karena permukaan airnya yang relatif tenang, Sungai Carang juga dipilih karena memiliki nilai historis kerajaan Melayu yang kuat. Selain itu, ajang kompetisi ini juga terinspirasi dari budaya dan tradisi rakyat pada masa lalu.
"Di dekat Sungai Carang ini terdapat bekas pusat kerajaan Melayu. Ada situs Istana Kota Rebah. Generasi dahulu memiliki kehidupan yang sangat erat dengan laut," lanjut Lis.
Dragon Boat Race, lanjut Lis, bukan sekadar ajang olahraga biasa. Tetapi sebagai salah satu jejak rekam sejarah masa lalu yang harus dititipkan pada generasi saat ini.
Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata, Raseno Arya juga mengapresiasi perlombaan yang telah hadir selama empat tahun ini. Menurutnya, dibanding dengan acara dragon boat yang diselenggarakan daerah lainnya, dragon boat milik Tanjung Pinang memiliki peserta terbanyak.
"Kita sering mengadakan dragon boat race, tapi ini yang terbanyak pesertanya. Setiap tahun pesertanyabselalu meningkat, untuk tahun depan mungkin hadiahnya perlu kita tingkatkan. Kami siap mendukung supaya banyak tim luar negeri yang hadir. Karena ini menjadi target kami dalam rangka meningkatkan kunjungan wisman, tahun ini 15 juta," papar Raseno.
Raseno juga mengapresiasi berbagai event di Kepulauan Riau yang melibatkan olahraga dan pariwisata atau sport tourism. Di antaranya adalah Tour de Bintan, Dragon Boat Race, dan Bintan Fishing Festival. Dengan banyaknya event sport tourism di Kepri, Raseno optimis Kementerian Pariwisata dapat mencapai target wisman akhir tahun. Terlebih, Kepri masuk ke dalam tiga provinsi penghasil wisman terbesar selain Bali dan Jakarta.
"Banyak yang kita lakukan supaya target tahun ini bisa tercapai. Saya yakin wisman tahun ini akan melebihi target," ujar Raseno.
Selain lomba perahu naga, acara juga diramaikan dengan lomba kayak dan lomba yel-yel tingkat SMP di Tanjung Pinang, hingga barongsai. Festival Sungai Carang 2017 masih akan berlanjut hingga Sabtu 21 Oktober 2017 dengan rangkaian kegiatan yang tak kalah seru.