MANISNYA air lohot terasa menyentak lidah ketika masuk ke dalam mulut. Ya, ini adalah air lohot khas Lingga, salah satu kabupaten di Kepulauan Riau.
Anda boleh merasa beruntung jika bisa mencicipi air ini. Sebab, air ini tak akan bisa ditemukan di daerah lain. Termasuk di kabupaten lain di Kepulauan Riau sekalipun. Konon, air lohot adalah minuman yang disajikan untuk raja-raja di tanah Melayu.
Air lohot memiliki rasa dan isi yang unik. Sebab, air ini terdiri dari beberapa buah yang dikeringkan, seperti buah lohot kering, kelengkeng kering, hingga kismis kuning. Buah lohot sendiri memiliki warna merah dan daging yang manis, rasa dan teksturnya mirip dengan kurma.
Buah-buahan tersebut kemudian dicampurkan ke dalam air yang telah diberi gula batu. Sehingga warnanya menjadi coklat dan terasa begitu manis. Kini, air lohot bisa dicampur dengan es batu untuk menambah kesegarannya.
"Ini minuman para raja. Tidak ada yang menjual air lohot. Kita sedang mencoba mengembangkan air lohot agar bisa dinikmati masyarakat," ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau Buralimar saat berbincang bersama Okezone di halaman Gedung Daerah Tanjung Pinang, Kepri, Jumat (20/10/2017).
Air lohot termasuk salah satu kuliner khas Kepri yang dipamerkan di acara Fiesta Kuliner dalam rangkaian Festival Bahari Kepri. Selain air lohot, makanan khas dari Daik, Lingga, yang bisa dicicipi dalam acara ini adalah lakse goreng dan bubur lambuk.
Lakse goreng merupakan mi yang dibuat menggunakam bahan dasar sagu. Kemudian digoreng dan diberi bumbu rempah khas Melayu. Warnanya bening dan teksturnya lembut, penampilannya hampir seperti kwetiau. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak pipih. Kemudian ditambah dengan daun selasih dan cabai untuk penambah rasa.
"Ini makanan khas orang Lingga," ucap Neli ali Musa, salah satu warga Lingga asli yang menjaga stand khas Lingga.
Kemudian karena rasa penasaran, Okezone mencoba mencicipi bubur lambuk yang memiliki tampilan berwarna hijau. Namun penampilannya berhasil mengecoh kami. Meski terlihat seperti sayur bening, rupanya bubur lambuk memiliki rasa yang begitu pedas. Bagi pencinta pedas, makanan ini tentu harus dimasukkan ke dalam daftar makanan yang harus dicoba ketika berkunjung ke Kepulauan Riau.
Neli mengatakan rasa pedasnya berasal dari campuran cabai dan merica. Bahan dasarnya sendiri terdiri dari banyak jenis sayuran hijau yang dicampur dengan sagu biji berwarna putih bening. Ia juga mengungkapkan fakta unik tentang bubur lambuk Daik.
"Sebenarnya ada 44 macam sayuran untuk membuat bubur lambuk. Tapi yang dibawa hari ini hanya bisa 17 jenis sayur, ditambah dengan bumbunya menjadi 20 jenis," tambah Neli.
Bubur lambuk yang disediakan hari ini terdiri dari campuran 17 sayur, di antaranya adalah kacang panjang, daun singkong, kecipir, sagu biji, kacang tanah, daun kunyit, daun selasih, dan ubi kuning.
Selain makanan khas Lingga, Fiesta Kuliner juga menampilkan berbagai hidangan dari ikan dalam stand Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri. Salah satu yang terkenal adalah kernas. Kernas terbuat dari campuran sagu dan ikan tongkol. Kemudian ditambah dengan bumbu dapur dan dibentuk menjadi bulat dan pipih sebelum digoreng. Kernas biasanya disajikan dengan sambal merah agar lebih lezat.
Ada pula mie tarempa, mie berwarna kuning dengan ukuran agak besar yang dicampur dengan ikan tongkol cincang. Ikan tongkol di dalam makanan ini memperkaya rasa dan membuatnya lebih menarik untuk dicicipi. Sebagai pelengkap, mie tarempa ditaburi dengan cabe cuka. Otak-otak juga menjadi salah satu makanan khas Kepri yang dipamerkan.
Selain kuliner dari ikan, festival yang didukung oleh Kementerian Pariwisata ini juga menampilkan beragam kue khas Melayu. Salah satunya adalah roti gendang yang kerap dijadikan oleh-oleh. Roti ini memiliki bentuk dan tekstur seperti makanan khas Sunda, combro. Hanya saja, roti gendang memiliki rasa yang manis dan diisi dengan ikan tongkol halus yang dicampur dengan cabai sehingga menghasilkan rasa pedas.
Selain itu, ada beberapa kue lainnya seperti kue talam belaup. Kue ini memiliki warna putih gang dibuat menggunakan tepung beras, udang, canai, dan daun kunyit yang diiris kecil-kecil. Ada pula kole-kole, kue srikaya bertulang, kue dua sebilik, dan kusoi.