SAAT sedang jatuh cinta, otak seseorang dipenuhi dengan hormon yang menciptakan perasaan bahagia dan puas. Itulah mengapa rasanya sangat bahagia ketika jatuh cinta dan mengapa sangat menyakitkan begitu putus cinta.
Cinta menghasilkan nuansa alami hormon yang baik di otak manusia seperti dopamin dan oksitosin. Jadi saat Anda mengalami patah hati, itu akan mempengaruhi lebih dari sekedar perasaan hati.
Melansir dari Familyshare, Jumat (13/10/2017), maka inilah yang sebenarnya terjadi pada otak manusia ketika mengalami patah hati akibat perpisahan.
Tingkat stres meningkat
Ketika pria spesial pergi meninggalkan, zat kimia alami yang biasa membuat Anda merasa sangat bahagia mengalami penurunan tajam, mengisi otak dengan hormon stres seperti kortisol dan epinefrin. Hormon stres tersebut dirancang untuk memompa merja otak dalam situasi darurat yang singkat, tapi terlalu banyak dari mereka dalam jangka panjang membuat sakit kepala, sakit perut dan bahkan sistem kekebalan tubuh terganggu. Hubungan otak dan tubuh benar terjadi, sehingga perpisahan juga melukai otak, sama seperti menghancurkan hati.
Otak terasa kabur dan hati terasa patah
Mungkin sebagian orang telah memperhatikan bahwa sejak Anda berdua berpisah, Anda merasakan sakit perut, ketidakjelasan apa yang terjadi di kepala dan hati. Rasanya seolah-olah hati dan otak telah rusak. Maka perlu diketahui bahwa ada yang namanya patah hati sindroma. Selama sindrom hati pecah-patah, bagian otot jantung melemah sementara, sehingga dapat memicu tekanan emosional.