“Kita mungkin enggak akan ngaca. Tapi saat cuci tangan dan lihat pantulan di kaca jelek, lebih down. Spirit seperti ini yang saya tularkan ke teman lain. Jadi ada yang datang kemoterapi dengan cantik memakai turban,” jelasnya.
Selain meyakinkan diri sendiri untuk berpikir positif, Mutia juga mendapat kekuatan dari keluarga. Dukungan dari suami dan keluarga besar membuat Mutia semakin semangat menjalani kehidupan hingga ia dinyatakan sembuh setelah berjuang melewatinya sekira satu tahun.
“Suami tidak pernah menunjukkan wajah sedih. Dia memperlakukan saya seperti orang biasa. Saya bersyukur, jadi enggak ngerasa seperti orang sakit. Habis operasi efeknya tangan sulit diangkat. Tapi saya tetap diperbolehkan nyetir. Saya merasa berdaya, bisa melakukan sesuatu,” ungkapnya.
Ia juga mengajak orang-orang di luar yang memiliki keluarga atau teman dengan kanker payudara agar tidak memperlakukan mereka seperti orang yang sakit. Tapi berilah kepercayaan agar mereka memiliki semangat hidup.
“Buat teman-teman yang mungkin menghadapi mereka yang terdiagnosa, empati pasti boleh dan harus. Tapi jangan perlakukan mereka seperti tidak bisa apa-apa. Kita percaya dia bisa sembuh,” tandas Mutia.
(Helmi Ade Saputra)