MEDIA sosial sepertinya sudah bukan lagi sekadar wadah untuk menuangkan aspirasi atau unek-unek masalah pribadi. Pada sebagian profesi, media sosial dianggap penting dalam kelangsungan pekerjaannya.
Nah, siapa sangka kalau ahli bedah pun membutuhkan sosial media untuk mempromosikan dirinya. Begitu lah yang dilakukan salah seorang dokter di Amerika Serikat. Menggunakan Snapchat, dia merekam tindakan operasi salah seorang pasiennya.
Salah satu alasannya mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Adalah karena banyak calon costumer yang akhirnya mengandalkan Instagram dan Snapchat sebagai bahan pertimbangan dalam memilih dokter bedah. Semakin si dokter aktif update kabar terkini, maka publik pun akan semakin percaya. Apalagi jika hasilnya pun terbilang baik.
BACA JUGA:
Namun, tindakan yang dilakukan dokter yang tidak diketahui identitasnya ini dianggap mengkhawatirkan masyarakat. Sebab, secara prosedural, ketika tindakan operasi dilakukan, maka harus ada persetujuan pasien untuk diberikan informasinya atau tidak.
Sementara itu, dilansir Daily Mail, Jumat (29/9/2017), di lain pihak, semakin tingginya penggunaan media sosial di dunia medis, membuat American Society of Plastic Surgeons (ASPS) menerbitkan beberapa panduan yang meringankan penggunaan media sosial di klinik.
Karena itu, kini ahli bedah yang berafiliasi dengan ASPS di Northwestern University telah menerbitkan panduan komprehensif pertama mengenai praktik tersebut. Panduan tersebut berbicara mengenai teka-teki yang dihadapi ASPS, apakah Snapchat sangat bagus untuk bisnis atau malah mencoreng dunia medis secara keseluruhan?
Yang perlu Anda sadari adalah para ahli menyimpulkan bahwa tren ini adalah hal yang baik untuk operasi jika membantu mendidik pemirsa, apalagi untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat awam mengenai operasi. Tapi, yang harus ditegaskan adalah semua ahli tetap profesional dalam melakukan tindakan operasinya, bukan malah main-main di ruang operasi.
Tak hanya itu, mereka yang memperingatkan bahwa banyak akun media sosial merujuk pada pasien sebagai 'konsumen'. Alhasil mengabaikan perawatan yang maksimal. Sebab, tidak bisa disamakan antara pasien dengan konsumen!
BACA JUGA:
"Ini langkah pertama yang cukup terkini, jika disikapi dengan bijak, tentunya akan berdampak positif bagi dunia medis,” kata penulis senior Dr. Clark Schierle, seorang ahli bedah plastik dan anggota fakultas di Universitas Northwestern Feinberg School of Medicine.
"Ada beberapa hal yang dianggap vulgar oleh sejumlah ahli bedah plastik yang tidak sesuai dengan kepentingan pasien, misalnya saat dokter atau ahli medis lainnya merekam tindakan operasi pada bagian yang sensitif, hal ini perlu dipertimbangkan dan dipahami dengan baik,” tambahnya.
Yang harus dipahami di sini adalah bahwa tidak ada panduan ASPS resmi mengenai berbagi video di platform media sosial, sehingga ahli hanya mengandalkan etika saja dalam bekerja. "Kami berharap ini akan masuk ke kode etik resmi untuk ahli bedah plastik bersertifikat," kata Schierle.