Baca Juga:
"Iya. Jauh lebih sulit. Pornografi mempengaruhi otak. Otak kita melepaskan bahan kimia untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri untuk kegiatan yang mendukung kehidupan seperti berolahraga dan makan. Ini disebut jalur reward, di mana bahan kimia memberi efek ‘bahagia’ yang mengalir seperti endorfin dan dopamin,” tulis Dr. Jeffrey Satinover, seorang psikoanalis dan psikolog, seperti dilansir Familyshare, Selasa (12/9/2017).
Dalam pernyataannya di hadapan Kongres, Dr. Jeffrey Satinover memperingatkan, dengan munculnya komputer, sistem pengiriman yang menstimulus zat adiktif [pornografi] ini telah membuat seolah-olah pengguna telah menemukan sebuah bentuk heroin 100 kali lebih kuat dari sebelumnya, yang bisa digunakan di ruang privasi di rumah dan disuntikkan langsung ke otak melalui mata.
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The Virginia Commonwealth University, Dr. Jennifer Johnson menemukan bahwa pornografi mengendalikan dan merusak hubungan seksual para peserta.
“Seks adalah ekspresi cinta. Pornografi adalah ungkapan nafsu. Diskusi kuno tentang cinta vs nafsu. Seks kurang berarti jika hanya memenuhi kebutuhan seseorang. Seks lebih memuaskan jika menjadi pengalaman bersama. Pornografi mempengaruhi lebih dari partisipannya,” jelasnya.
(Ade Indra Kusuma)