MENYEBUT kata tenun pastilah bukan hal asing dan baru karena kain tradisional Indonesia ini sudah sangat populer dan punya nama bahkan di kancah Internasional. Tapi meskipun memiliki sebutan yang sama, setiap tenun dari daerah memiliki nama khas, ciri, motif hingga filosofi yang saling berbeda.
Menenun adalah kegiatan rutin yang dilakukan gadis-gadis dan kaum ibu di sebagian besar desa di berbagai daerah. Kegiatan yang dilakukan selama berhari-hari hingga berbulan ini menghasilkan helai kain cantik. Meskipun sebagian besar cara membuat dan alat yang digunakan sama tetapi setiap tenun daerah memiliki perbedaan yang signifikan.
BACA JUGA:
Underwear Dijamin Tak Nyeplak saat Berbusana Ketat, 5 Langkah Jadi Solusinya
Dilansir dari berbagai sumber, Okezone merangkum 4 tenun beserta kisah dibaliknya. Mungkin salah satu motif tenun berikut adalah motif favorit Anda.
Tenun NTT
Di antara deretan tenun yang ada di Indonesia, tenun asal NTT terbilang yang sangat populer. Secara turun temurun tenun ini dibuat oleh masyarakat. Bahan alami baik benang maupun pewarnanya berasal dari bahan alami yang dipertahankan sejak dahulu.
Selain sebagai pakaian, tenun NTT memiliki berbagai fungsi lain yang tak kalah penting. Sehelai kain tenun NTT secara adat dijadikan sebagai mahar dalam perkawinan, pemberian dalam upacara kematian, penentu status sosial, alat barter hingga digunakan sebagai bentuk penghargaan atas prestasi atau tamu kehormatan yang datang.
Warna tenun NTT sangat beragam mulai dari warna gelap seperti hitam dan coklat, beberapa kain juga ditenun dengan benang yang diwarnai cerah seperti merah, kuning hingga biru. Semua bahan pewarna yang digunakan berasal dari alam dan dibuat dengan komposisi yang diwariskan turun-menurun.
Tenun Bali
Kain tenun asal Bali dikenal dengan sebutan tenun ikat Endek. Kain ini diturunkan secara turun temurun dari leluhur Bali. Masa puncak perkembangan tenun Endek yakni sejak 1985 saat masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung. Tenun ikat Endek dibuat secara tradisional dengan mempertahankan pakem-pakem yang ada sejak dahulu termasuk motif yang diaplikasikan.
Pemerintah turut berperan serta dalam melestarikan tenun Endek. Salah satu upayanya adalah dengan mewajibkan para PNS Pemerintah Kota Denpasar untuk mengenakan tenun Endek secara rutin. Selain itu tenun endek juga disarankan untuk dikenakan di momen-momen tertentu seperti upacara adat atau gelaran festival.
Tenun Toraja
Seiring dengan masih rutin digelarnya upacara adat di Toraja, maka masyarakatnya masih senantiasa mengenakan tenun Tana Toraja. Masyarakat bahkan menganggap tenun ini sebagai kain kebanggan. Desa yang dikenal sebagai sentra pengrajin tenun adalah di Sa’daan Malimbong, di sini masyarakat baik tua maupun muda beramai-ramai menenun dengan senang hati.
Proses menenun di Tana Toraja terbilang masih tradisional, mulai dari bahan benang, pewarna hingga proses pembuatan dilakukan secara manual. Benang yang digunakan untuk membuat tenun ini terdiri dari 2 jenis yakni benang dari kapas dan benang dari serat daun nanas. Pewarnanya juga berasal dari kulit pohon, pelepah, biji hingga daun. Dahulu tenun Toraja dijadikan lambang kemakmuran dan status sosial pemiliknya.
Tenun Dayak
Ada banyak ragam variasi tenun milik suku Dayak, salah satu yang terkenal adalah tenun dayak iban yang disebut kain kebat. Tenun ini biasa jadi pakaian masyarakat dan dianggap sebagai pakaian mewah yang dipakai saat menghadiri upacara adat.
Kain tenun kebat memiliki ciri warna yang gelap didominasi warna coklat dan hitam. Motifnya beragam mulai dari motif alam, tanaman hingga hewan. Pola motifnya asimetris dengan tingkat kerumitan yang berbeda. Semakin rumit motifnya maka semakin lama tenun dibuat. Hal ini berpengaruh pada harga yang dibanderol pada sehelai tenun kebat.
BACA JUGA:
Stylish! Kain Lurik Disulap Penuh Gaya Kekinian
Pria Lebih Rentan Jerawatan daripada Wanita, Alasannya karena Hormon!