ALAM dengan segala kekayaannya, sejatinya memang telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk melanjutkan hidup.
Mulai dari sumber bahan makanan, sumber listrik, sumber energi cahaya, termasuk di dalamnya sumber-sumber kekayaan alam yang bisa dijadikan sebagai bahan komponen utama membuat barang-barang kebutuhan primer manusia, yakni benang untuk membuat busana.
Di tengah banyaknya bahan kimiawi untuk membuat benang, yang memang mungkin secara teknis membuat proses pembuatan benang menjadi lebih mudah karena bisa dihasilkan dengan kuantiti yang besar dalam waktu yang singkat.
Ada sederet jenis-jenis bahan tradisional alami yang disediakan oleh alam untuk membuat benang. Penasaran kan? Sebagaimana dirangkum Okezone dari berbagai sumber, berikut ulasannya.
BACA JUGA:
Mengenal Motif Kain Tenun Khas Dayak, Idenya Lahir dari Mimpi sang Penenun saat Tidur
FASHION HERITAGE: Sulam Karawo Gorontalo Siap Melenggang di New York Fashion Week 2018
Daun serat
Jenis daun satu ini mungkin memang tidak familiar terdengar, tumbuhan serat sendiri ini adalah tanaman rimbun yang mudah berkembang biak. Mengolah benang secara tradisional, salah satunya dari bahan daun serat memang menuntut banyak kesabaran.
Proses awal pembuatan benang dari daun serat ini, diawali dengan memetik daun serat yang sudah tua, dikeringkan lalu karena tumbuhan serat termasuk dalam jenis tumbuhan berduri, maka duri-duri dari bagian daun harus dihilangkan terlebih dahulu. Selanjutnya baru daun serat ini disuwir-suwir dan dikerok agar berubah warnanya dari hijau, lalu menjadi putih.
Disebutkan lebih lanjut, proses pengerokan inilah yang membutuhkan kesabaran, pengerokan dilakukan dengan bantuan alat yang dibuat dari dua pilah bambu yang disatukan lalu diberi ruang atau jarak di bagian tengahnya.
Nah, pengerokan ini sendiri bisa dilakukan ketika daun serat sudah layu, mengapa? Agar serat benang yang dihasilkan tidak putus, baru setelah menjadi serat benang, proses terakhir adalah dijemur kembali sampai kering barulah benang dari daun serat ini siap digunakan untuk dijadikan bahan baku. Diketahui daun serat dapat dipanen dalam periode satu tahun sekali. Pohon serat yang mirip nanas ini daunnya akan terus tumbuh dan bertambah.
Filamen pisang
Tidak hanya enak untuk dikonsumsi, serat pisang pun bisa diubah sedemikan rupa menjadi benang. Seperti yang dilakukan oleh desainer muda asal Yogyakarta, Rosso. Di mana disebutkan ia membuat koleksi kain tenun dengan bahan serat pisang, yang di mana serat pisang ini bisa menghasilkan benang yang berkilau dan kelenturannya setara dengan sutra loh! Pada dasarnya dikatakan bahwa semua jenis pisang hadir dengan filamen (serat) yang diambil dengan cara sederhana lalu ditenun menjadi benang ataupun bahan kain. Satu pohon pisang yang tumbuh di Indonesia, disebutkan rata-rata bisa menghasilkan sekitar 55 kilogram benang.
Serat daun nanas
Ada lagi bahan alami yang bisa dijadikan sebagai bahan benang tradisional, ialah serat dari daun nanas. Proses pemanfaatan serat daun nanas untuk menjadi benang ini diawali dengan memisahkan serat nanas dari daunnya dengan cara scraping atau pengerokan memakai pisau atau alat plat, dengan tujuan untuk menghilangkan zar-zat yang masih melekat pada serat.
Setelah itu serat baru dicuci bersih, dan dikeringkan baru kemudian dipintal menjadi benang. Walaupun diketahui serat daun nanas ini menghasilkan benang yang notabene masih kasar, maka dari itu membutuhkan modifikasi peralatan pemintalan dengan sistem cotton, rotor, atau sistem spinning. Proses pemintalan serat daun nanas jadi benang, bisa dilakukan murni terdiri dari 100 persen serat daun nanas saja ataupun dicampur dengan bahan serat lain seperti polyester, kapas, atau serat wool.
BACA JUGA:
Selain Batik, Indonesia Punya Kain Tenun yang Patut Jadi Kebanggaan
Kain Tenun Enggak Boleh Terlalu Sering Dicuci! Ini Alasannya
Serabut kelapa
Tidak banyak orang awam yang mengetahui bahwa serabut kelapa atau yang biasa disebut dengan sabut kelapa (cocos nucifera L) juga bisa diolah menjadi benang. Meskipun hadir dengan tekstur yang kasar, namun dengan melalui beberapa proses pengolahan yakni bleaching, softening, dan drying maka sabut kelapa yang kasar ini bisa hadir dengan tekstur yang hampir menyerupai woll, contoh hasil dari serat jenis ini sendiri misalnya adalah katun serta kain rami.