Selfie deteksi penyakit lainnya
Foto selfie tidak hanya dapat mendeteksi penyakit kanker pankreas. Sebelumnya, sejumlah periset dari Byers Eye Institute di Stanford University menggambarkan bagaimana mereka menggunakan metode pembelajaran mendalam untuk menciptakan algoritma otomatis untuk mendeteksi retinopati penyakit diabetes.
Dikutip dari Science Daily, diabetes retinopati adalah suatu kondisi yang merusak pembuluh darah di bagian belakang mata yang menyebabkan kebutaan. Keuntungan algoritma ini tidak memerlukan peralatan komputer khusus, teknologi ini bisa dijalankan di komputer pribadi biasa atau smartphone dengan prosesor rata-rata.
Theodore Leng, MD penulis utama penelitian ini mengungkapkan bahwa AI algoritma besutannya dapat mengidentifikasi semua stadium penyakit, mulai dari yang ringan hingga berat dengan tingkat akurasi 94%.
Sekira 45% pasien diabetes cenderung memiliki retinopati, namun kurang dari separuh pasien menyadari akan kondisinya. Deteksi dan pengobatan dini merupakan bagian integral dari memerangi epidemi penglihatan yang dapat dicegah di seluruh dunia.
Lalu, foto selfie juga dapat membantu untuk mendeteksi penyakit langka. Sebelumnya, para peneliti telah berhasil mengembangkan teknologi yang memungkinkan dokter mendeteksi penyakit hanya dari foto selfie. National Institutes of Health's National Human Genome Research Institute (NHGRI) dan peneliti lainnya mengembankan teknologi software pengenalan wajah seperti yang ada di Facebook.
Software ini dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit langka yang disebut 22q11.2 deletion. Penyakit yang juga dikenal sebagai sindrom DiGeorge bisa sulit didiagnosis pada populasi yang beragam karena mengarah ke beberapa organ lain, termasuk masalah jantung, gangguan pendengaran, sumbing, dan fitur wajah khas lainnya. Namun, intervensi dini cukup penting agar pasien mendapat perawatan yang tepat.
"Sindrom malformasi manusia tampak berbeda di berbagai belahan dunia. Bahkan klinis berpengalaman mengalami kesulitan mendiagnosis sindrom genetik pada populasi non-Eropa," kata Dr Paul Kruszka, ahli genetika di NHGRI's Medical Genetics Branch.
Dokter di 11 negara itu mengirimkan 101 foto untuk digunakan dalam studi yang dipublikasikan di American Journal of Medical Genetics. Para peneliti kemudian menggunakan teknologi analisis wajah untuk membandingkan grup dari 156 kulit putih, Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang menderita penyakit dengan orang yang tidak memiliki penyakit, seperti dikutip dari Cnet.
Doktor mengambil foto untuk studi menggunakan peralatan fotografi yang tersedia. Tapi di era ketika smartphone sudah mampu membantu orang menentukan apakah mereka memiliki infeksi saluran kemih dan pre-clampsia, Marius George Linguraru, orang yang mengembangkan software, melihat smartphone paling potensial membantu dokter membuat penilaian cepat.
Sebelum itu bisa terjadi, studi klinik lebih akan diperlukan. Di samping itu, studi pada sindrom DiGeorge ini merupakan yang kedua dalam serangkaian pengujian software pengenalan wajah sebagai alat untuk mendiagnosis penyakit bawaan dalam populasi yang beragam.
(Helmi Ade Saputra)