OKEZONE WEEK-END: Kopi Solok Radjo Beraroma Rempah dari Lembah Gumanti

Rus Akbar, Jurnalis
Sabtu 26 Agustus 2017 15:11 WIB
Kopi Solok Radjo (Foto: Rus Akbar/Kontributor)
Share :

JANGAN mengaku penikmat kopi, jika Anda tak tahu kenikmatan kopi Solok Sumatera Barat. Khususnya kopi Solok Radjo dengan branding Sumatera Arabika Minang Solok yang terletak di Aie Dingin, Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Ardi Sunarya (28), penikmat kopi sekaligus pengelola kelompok tani Sumatera Arabika Minang Solok menuturkan, kopi Radjo Solok memiliki aroma dan rasa tersendiri.

 Baca juga; OKEZONE WEEK-END: Kisah Jatuh Bangun Kopi Mandailing hingga Sempat Jadi yang Termahal di Dunia

“Setiap daerah punya aroma dan rasa yang khas. Kopi disini aroma dan rasanya berbeda-beda. Setiap kecamatan, itu aroma dan rasa kopinya berbeda pula,” ujarnya.

Menurutnya Kopi Solok Radjo ini masih tergolong baru dikancah para pencinta kopi. Sekitar 2 tahun, kopi Solok memang tengah booming, namun sayangnya pengelolaan kopi belum maksimal, meskipun di daerah Solok banyak sekali perkebunan kopi.

“Pengelolaan hanya sekedarnya saja, sehingga kopi yang dihasilkan tentunya tidak sempurna dan kualitasnya pun tidak bisa untuk ekspor,” terangnya.

Nah untuk mengelolah kopi dengan hasil yang mampu bersaing di kancah internasional, kata Ardi harus dengan cara tersendiri dan sangat berhati-hati. Kopi yang dapat menghasilkan kualitas bagus pengolahan yang bagus pula.

Cara untuk menghasilkan kualitas yang bagus Ardi bersama dengan kelompok tani Sumatera Arabika Minang Solok sampai bisa panen 5 kilogram per batang setiap tahunnya. Yang paling utama adalah perawatan mulai dari pupuk hingga jarak tanam dan juga pemangkasan.

Kemudian kopi yang dipanen itu harus benar-benar matang, karena jika bercampur dengan kopi yang masih muda atau kehijauan hasilnya tidak akan sempurna dan tidak akan pernah menghasilkan kopi dengan kualitas ekspor.

“Minang Solok Radjo sangat mengutamakan hasil panen kondisi yang matang atau benar-benar sudah merah,” terangnya.

Sementara masyarakat umumnya di Sumatera Barat, petani kopi masih melakukan panen tidak tebang pilih. Mereka masih mencampur adukkan kopi yang benar-benar matang dengan yang masih muda atau separoh matang. “Kopi kualitas ekspor adalah kopi yang dipanen benar-benar kondisi matang,” terangnya.

Selain itu lanjut Ardi Sunarya, permasalahan saat ini adalah hasil panen yang belum mencukupi sesuai dengan permintaan pasar.

Baca Juga: OKEZONE WEEK-END: Menilik Asal Usul Kopi Luwak, Kopi Termahal & Tereksotis di Dunia

“Permintaan saat ini cukup banyak. Namun, kita belum mampu memproduksi kopi sesuai dengan jumlah permintaan tersebut. Karena, untuk panen kopi kita harus pilih-pilih. Hanya memanen yang sudah matang. Kita lebih mementingkan kualitas dari kuantitas,” ucapnya.

Untuk ekspor kopi tersebut sudah masuk negara Singapura dan Australia. Untuk Australia baru 1,5 ton dan Singapura baru sampel dan ini berpeluang sama ke negara Eropa. Saat ini Sumatera Arabika Minang Solok telah memproduksi kopi jenis arabika dengan lima variates.

“Yang terbaru itu Limau Cirago, dan kita menjualnya dengan harga yang berbeda pula. Mulai dari yang difect, harganya Rp21.000 per kilogram. Sedangkan yang paling mahal itu Rp100.000 per kilogram, itu variates Limau Cirago. Itu untuk harga lokal, sedangkan untuk ekspor tergantung biaya pengiriman,” ungkapnya.

Inovatif! Ada Cangkir Kopi yang Terbuat dari Limbah Kulit Ari Biji Kopi!

Geliat Pesat Petani Kopi di Lampung agar Robusta Jadi Unggulan di Tanah Air

Nah kopi Solok Radjo atau Sumatera Arabika Minang Solok akan lebih nikmat diminum kalau terlebih dahulu kopi dan air direbus sehingga akan mengeluarkan aroma dan rasa yang lebih nikmat dibanding menyiram dengan air panas.

Sementara Syafrizal Rajo Endah petani yang selama 8 tahun bertani kopi memberikan tips cara mengolah kopi yang benar, selain memanen kopi yang matang, pemilihan pupuk yang berkualitas juga menentukan enaknya kopi.

“Biasanya saya menanam kopi dengan jarak 1,5 x 2 meter, itu berguna agar kopi tidak mudah terserang hama dan menggunakan pupuk organik. Kemudian menggukan pupuk organik lebih tahan hama dan hasil panennya juga lebih bagus,” ungkapnya.

Selain itu pasca panen kopi jangan dibiarkan bermalam dan jangan sampai dibiarkan menumpuk begitu saja, itu harus diolah langsung. “Kalau tidak, aroma kopi itu akan hilang dan hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan,” pungkasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya