Ketika energi berkurang dan tubuh mulai letih, si kecil yang seolah tidak pernah capek bermain sering kali menjadi rewel, bukan? Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Apabila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain sambil belajar saat bereksplorasi.
Sama halnya dengan anak yang bersekolah dari pagi hingga siang hari. Sepulang sekolah, dalam keadaan letih, dia pasti akan sulit berkonsentrasi ketika diminta mengulang pelajaran. Apabila dipaksakan, mungkin hasilnya nihil. Lebih baik berikan kesempatan kepada anak untuk beristirahat agar energinya kembali.
Selama tidur semua sel tubuh mengalami pemulihan dan regenerasi, termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum, dan sel otak. Dengan fisik yang bugar dan didukung oleh sel-sel baru yang lebih sehat, maka tak heran anak akan lebih semangat dalam melakukan sesuatu. Apalagi didukung oleh otak yang berfungsi dengan baik. Selain itu, hormon-hormon pun lebih aktif diproduksi selagi tidur. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak dan melancarkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Dengan demikian, sel-sel saraf semakin berkemungkinan memiliki pengetahuan yang permanen sifatnya.
Bayi yang tidur cukup akan menjadi anak cerdas
Penelitian yang dilansir di London pada 1998 mengungkapkan bahwa bayi yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Pasalnya, aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak, tidak mengherankan jika aktivitas tidur pengaruhi kecerdasan anak. Hal ini bisa dimengerti karena 75 persen hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur.