Saat melakukan gerakan, para penari diiringi dengan musik perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tata busana dari tarian ini juga sangat khas karena ada pengaruh dari Kerajaan Blambangan. Baju penari biasanya terbuat dari beludru berwarna hitam yang dihias dengan ornamen kuning emas dan manik-manik.
Penari juga mengenakan satu buah kelat di bahu dan pinggang. Tidak lupa penari mengenakan hiasan seperti mahkota yang disebut omprok dan selendang di bahunya. Terkadang penari juga mengenakan satu buah kipas.
Tari Gandrung biasanya berlangsung hingga subuh dan terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama yaitu jejer. Di mana sebelum melakukan gerakan, biasanya para penari berjejer menyanyikan beberapa lagu terlebih dahulu.
Tahap kedua adalah paju atau maju. Di tahap ini penari memberikan selendang ke para tamu yang umumnya laki-laki dengan cara dikalungkan ke leher. Penari mulai mengajak para tamu untuk menari bersama dengan ada beberapa gerakan yang terlihat menggoda.
Tahap terakhir dari tarian ini adalah seblang subuh. Setelah selesai dengan tahap paju, penari biasanya beristirahat sejenak. Lalu tarian dilanjutkan dengan gerakan yang perlahan dan penuh penghayatan sambil mengibaskan kipas yang dibawa. Tak lupa gerakan ini juga diiringi dengan gending bertema sedih salah satunya seblang lokento.