HARI MERDEKA: Penduduk Papua Barat Belum Merdeka dari Malaria, Cerita Tenaga Medis Menyehatkan Masyarakat dengan Segala Keterbatasan

Dewi Kania, Jurnalis
Rabu 16 Agustus 2017 12:28 WIB
Ilustrasi (Foto: dok.Okezone)
Share :

PROVINSI Papua Barat, tepatnya Kabupaten Boven Digoel memiliki situasi geografis yang rumit. Masyarakat masih percaya dengan budaya nenek moyang, sehingga sangat sulit mematahkan kebiasaan dalam menyembuhkan penyakit dengan bantuan medis.

Masalah tersebut sangat dirasakan oleh Yohanes Karlos Mandobar, seorang tenaga kesehatan teladan di bidang ahli teknologi laboratorium. Sudah sekira 20 tahun dia mengabdi di sebuah rumah sakit yang berlokasi di Distrik Mindiptana.

(Baca Juga: Metode Masak Nasi Putih dengan Minyak Kelapa Jauh Lebih Sehat, Kalorinya Rendah)

Sebagai contoh, kasus angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria di kawasan Papua sangat tinggi. Tetapi masyarakat belum menyadari betul bahwa penyakit yang dideritanya itu merupakan salah satu gangguan kesehatan yang bisa dicegah.

"Masyarakat Papua itu sulit sekali diubah mindset menjadi modern. Pendidikannya rendah, budaya adatnya masih kental. Misalnya kalau kena malaria, mereka langsung pergi ke dukun," ungkap Yohanes saat ditemui Okezone di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

(Baca Juga: HOAX, Kabar Viral Anak Lumpuh Akibat Vaksin MR, Menkes: Jangan Besarkan Masalah Ini!)

Dijelaskan Yohanes, alasan masyarakat untuk pergi berobat ke dukun saat sakit yakni karena penyakit malaria sering dikira penyakit kutukan. Kaitannya dengan hal berbau magic, sehingga sulit mematahkan persepsi mereka bahwa penyakitnya itu berbahaya jika tidak diobati dengan bantuan medis.

"Terkadang, saya harus tegas kepada masyarakat di sana saat melakukan sosialisasi preventif dan promotif pencegahan penyakit," bebernya.

(Baca Juga: CATAT! Anak dengan Kondisi seperti Ini Harus Tunda Imunisasi MR)

Akibatnya, angka kematian malaria di tempat mengabdinya itu masih tergolong tinggi. Bila dipetakan, kawasan Papua Barat tergolong zona merah malaria yang harus segera diberantas.

"Kasus penyakit malaria semakin meningkat. Kalau di rumah sakit tempat saya, menangani sehari paling tinggi untuk pemeriksaan saja bisa sampai 20-30 pasien," tutur Yohanes.

Perubahan iklim di sana juga sangat menentukan tingginya jumlah penyakit malaria. Dalam menanganinya, tentu tenaga medis tidaklah sembarangan.

Nampaknya tak sebatas angka kesakitan akibat malaria yang tinggi, beberapa masalah gizi buruk, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), maag, masalah ibu hamil, hingga penyakit kronis yang sulit dikontrol.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya