Saudara laki-laki Tarik, Hargyan, menambahkan, otoritas sekolah memberi keterangan bahwa mereka tidak dapat menerima Tarik karena tangannya yang besar akan menakut-nakuti anak lain. "Dia ditolak masuk hampir di setiap sekolah. Tangannya sangat besar menjadi alasan utamanya. Saya belum pernah melihat tangan besar seperti itu dalam hidup saya. Dia terjebak dalam hidupnya. Dia bahkan tidak bisa mengganti bajunya. Aku lah yang kemudian harus merawat Tarik," terang Hargyan.
Hargyan menambahkan, sangat sulit bagi Tarik untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari seperti mandi, berpakaian dan makan. Segalanya harus mendapat bantuan tambahan dari orang lain. Kondisi tersebut tentu membuat dirinya terbatas. Hidupnya sangat tergantung.
Namun bibi Tarik, Pushpa, yakin kondisinya akan membaik. Dia berkata, hidup Tarik sangat tergantung pada keluarga. Pihaknya harus menjaganya sepanjang waktu. "Tapi saya yakin dia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Ketika ayahnya masih hidup, dia sering membawanya ke dokter setempat. Tapi ayahnya meninggal dunia dan dia hanya memiliki ibunya sekarang. Jadi, dia tidak bisa diobati sekarang," tambah sang bibi.
Hargyan melanjutkan, keluarganya sudah membawa Tarik ke banyak tempat untuk perawatan. Namun, yang dikunjungi dalah fasilitas kesehatan yang tidak dilengkapi dengan peralatan canggih. "Sayangnya, kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit yang baik. Dokter setempat tidak pernah membantu. Setiap dokter menyarankan agar Tarik mendapatkan perawatan yang tepat. Tapi bagi kita tidak ada jalan. Dia harus tetap seperti ini sampai kita punya uang untuk perawatannya," keluh Hargyan.