Pada akhir 1800-an, dokter berdalih, sunat adalah alat untuk "menyembuhkan" serangkaian penyakit. Mulai dari demam pada anak, keracunan logam berbahaya, sampai kelumpuhan. Dalam jurnal Transactions of the American Medical Association, Lewis Sayre, seorang profesor bedah ortopedi di Bellevue Hospital Medical College, menceritakan kisah operasinya pada anak laki-laki berusia 5 tahun yang lututnya lumpuh, yang mana itu membuat dia tidak bisa berjalan. (Baca Juga: Pria Disunat Lebih Kecil Risikonya Terkena HIV)
Selama pemeriksaan, Sayre menemukan bahwa kulup anak laki-laki itu mengalami masalah, menyebabkan anak itu merasa sangat sakit. Dokter pun berspekulasi bahwa masalah kulupnya menjadi sumber dari penyakit yang diderita si anak. Kulup yang bermasalah mengakibatkan syaraf pada si anak lemah. Sayre pun memutuskan melakukan sunat keesokan harinya. Dalam waktu kurang dari dua minggu, Sayre melaporkan, anak laki-laki itu berjalan lagi.
2. Kulup lebih kompleks dari apa yang Anda bayangkan
Kulup pada penis bukan sekadar kulit! Fakta ini harus Anda ketahui sebelumnya. Jika diibaratkan, kulup itu seperti kelopak mata. Melindungi bagian yang lebih sensitif di dalamnya. Kulup sebenarnya terbuat dari selaput lendir, serupa dengan bagian pada kelopak mata atau bagian dalam mulut. (Baca Juga: Menguak Mitos Seputar Sunat)
Hal itu yang membuat kulup bertanggungjawab akan hubungannya dengan infeksi menular seksual. Kulup juga dipercaya mengandung sejumlah besar sel Langerhans, sejenis sel kekebalan yang ditargetkan infeksi HIV. Pada perempuan kulup juga bisa diibaratkan seperti klitoris ternyata!