"Memang agak sulit kalau kita melihat gambarnya. Kita sulit untuk menjelaskan ini artinya apa, ini artinya apa," ucapnya.
Penggambaran dari mimpi itu, menurut Yohanes, bukan hanya terjadi pada masa dahulu saja, tetapi sampai sekarang pun masih seperti itu.
Sementara mengenai pola dasar gambar atau lukisan di kain tenun, dibuat berdasarkan tingkatan umur. Para gadis biasa belajar dari umur belasan tahun atau menjelang akil baligh (telah sampai usai masa dewasa). Mereka diajarkan membuat sesuatu untuk keperluan hidup, seperti pakaian atau bagaimana cara merias diri. Untuk buat pakaian, mereka belajar menenun. Pola tenun yang paling sederhana yang diajarkan untuk anak gadis, rata-rata biasanya gambar pakis, makanya orang berbentuk pakis.
Kemudian ada tingkatan lain. Rata-rata yang boleh menggambar berbentuk binatang naga atau dewa, untuk yang sudah cukup umur 40 atau 50 tahun ke atas. Harus seperti itu, karena ada di dalam tatanan, dikhawatirkan bagi anak gadis jika membuat pola-pola gambar naga dan dewa, jiwa mereka belum kuat. Bisa terbawa dengan apa yang ada di dalam gambar tersebut sehingga menjadi gila, sakit, atau bahkan meninggal dunia.
Sehingga motif manusia, ular, naga, ataupun buaya, biasanya hanya dibuat oleh penenun yang berusia rata-rata 40-50 tahun ke atas.
"Tak ada (usia) di bawah itu. Paling-paling mereka membuat ukiran, seperti bentuk pakis, rebung, bendera, atau perahu," kata Yohanes, menjelaskan.
Melestarikan Tradisi
Para penenun di rumah-rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan, belajar menenun secara turun-temurun dari para orangtua mereka. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka mencoba melestarikan tradisi. Namun juga harus diakui, seiring dengan pergeseran waktu, kini banyak anak muda Rumah Betang enggan menenun, tambah Yohanes.
Seperti yang dijumpai di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Maria (40), mengaku belajar menenun dari ibunya, saat dia masih remaja.