Selain Memicu Stres, Orangtua Bercerai Bisa Membuat Anak Rentan Obesitas

Tiara Putri, Jurnalis
Selasa 25 Juli 2017 19:30 WIB
Ilustrasi (Foto: Dailymail)
Share :

PERCERAIAN pastinya memberikan dampak negatif terhadap anak. Walaupun mungkin anak menerima perceraian kedua orangtuanya, di kemudian hari anak itu bisa merasa stres. Bukan hanya dari aspek psikologis, perceraian juga berimbas pada kesehatan anak yang mengalaminya.

Sebuah penelitian baru di Florida State University menunjukkan anak-anak yang orangtuanya bercerai bisa cenderung menjadi obesitas. Penelitian yang dilakukan oleh para psikolog itu menyelidiki bagaimana pengalaman masa kecil yang tidak terprediksi memengaruhi berat badan. Kejadian seperti perceraian adalah salah satu pengalaman tidak terprediksi dan merupakan pemicu terbesar yang menyebabkan anak kecil lebih banyak makan ketika sudah dewasa.

Mengalami lingkungan yang tidak dapat terprediksi pada masa kanak-kanak membuat mereka peka terhadap gagasan sulitnya merencanakan masa depan karena tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka menjadi terlalu fokus pada kehidupan jangka pendek serta takut membuat rencana dan harapan untuk jangka panjang.

“Anak-anak itu tumbuh untuk hidup di masa sekarang. Mereka cenderung ingin memiliki anak di usia muda, menghabiskan uang, dan segera mencari kepuasan dari makanan,” ungkap profesor psikologi Jon Mayer yang juga pemimpin penelitian seperti yang dikutip dari Daily Mail, Selasa (24/7/2017).

Sebelumnya, telah ada penelitian yang mengonfirmasi hubungan jelas antara status sosial ekonomi yang rendah dengan obesitas. Namun belum ada penelitian yang secara jelas mengidentifikasi akar permasalahannya. Sebagian besar hasil penelitian menyimpulkan stres akibat perceraian orangtua menghasilkan berbagai efek negatif pada anak-anak di kemudian hari.

Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi cara-cara untuk mencegah obesitas. Sebab, obesitas menyebabkan berbagai penyakit serius seperti jantung, stroke, kanker, penyakit liver, diabetes, dan lainnya. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang secara samar mendorong keluarga untuk mengurangi stres tanpa memberikan saran yang jelas, penelitian ini mengarah pada beberapa gagasan pencegahan yang potensial.

“Penelitian kami ini menunjukkan bahwa bukan hanya sekadar mengurangi stres, tapi lebih kepada bagaimana menciptakan struktur dan prediktabilitas yang tepat untuk anak-anak agar mereka tidak mengalami kejadian negatif di kemudian hari akibat pengalaman yang tidak dapat diprediksi,” kata profesor Maner.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya