Saat para siswa diuji lagi delapan jam kemudian, mereka yang diizinkan untuk tidur, dua kali lebih memungkinkan untuk memahami aturannya daripada mereka yang tetap terjaga.
Waktu kita tertidur, otak memasuki serangkaian siklus.
Setiap 90-120 menit, otak berfluktuasi antara tidur ringan, tidur lelap, dan fase yang berhubungan dengan mimpi yang dikenal sebagai Rapid Eye Movement (REM), yang hingga baru-baru ini diduga berperan besar dalam belajar dan mengingat.
Tetapi, ini bukan cerita keseluruhan. "Tidur non-REM masih sedikit menyimpan misteri, tapi kita menghabiskan sekitar 60% malam kita dengan jenis tidur ini," kata Stuart Fogel, ilmuwan syaraf di Universitas Ottawa.
Tidur non-REM ditandai oleh semburan aktivitas otak cepat, yang disebut sebagai 'spindle events' karena bentuknya seperti gelendong (spindle) yang melambangkan gelombang pada EEG.
Tidur nyenyak biasanya melibatkan ribuan dari peristiwa ini yang masing-masing berlangsung tidak lebih dari beberapa detik. "Ini adalah pintu gerbang ke tahap tidur lainnya - semakin Anda tidur, semakin banyak kejadian yang Anda alami," katanya.
Spindle events dimulai dengan lonjakan energi listrik yang dihasilkan oleh letusan cepat di dalam otak. Pelaku utamanya adalah talamus, sebuah daerah berbentuk oval yang bertindak sebagai pusat 'pengalihan utama' otak, mengirimkan sinyal sensorik ke arah yang benar.
Sewaktu kita tidur, ia bertindak seperti penyumbat telinga internal, mengacak informasi eksternal untuk membantu Anda tetap tidur. Selama spindle events, gelombang tersebut bergerak ke permukaan otak dan kemudian kembali turun lagi untuk menyelesaikan sebuah putaran.