Guna mengetahui kondisi penglihatan pasien yang mengaku mengalami keluhan, pemeriksaan mata untuk menegakkan diagnosis pun perlu dilakukan. Untuk itu, mata pasien akan ditetesi obat untuk melebarkan pupil sehingga dokter dapat melihat ke bola mata untuk mengamati retina, vitreus, termasuk saraf optik.
Bila ditemukan gangguan DR, pasien akan dibuatkan foto fundus (foto berwarna retina) serta diikuti pemeriksaan fundus fluoreisein angiografi (FFA) dan optical choherence tomography (OCT). Kedua pemeriksaan ini penting untuk menentukan jenis terapi yang diberikan. Bila kasus DR sudah terbilang serius, misalnya terjadi pendarahan vitreus atau ablasi retina traksional, perlu dilakukan tindakan bedah mikro, yaitu vitrektomi.
“Tujuannya mengeluarkan vitreus dari bola mata. Jaringan parut dikeluarkan dari retina dan retina yang terlepas dapat ditempel kembali ke dinding bola mata,” beber dr Referano. Selain itu, jenis terapi lainnya adalah injeksi obat untuk mencegah radang serta pertumbuhan pembuluh darah baru di bola mata.
Lebih jauh, Spesialis Penyakit Dalam JEC dr Ikhsan Mokoagow SpPD MMedSci yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan, diabetes merupakan penyakit yang menyerang pembuluh darah sehingga harus terkontrol. Jika tidak, hal itu berakibat komplikasi baik pada pembuluh darah besar maupun kecil.
Komplikasi yang menyerang pembuluh darah besar menyebabkan gangguan kardiovaskular, otak, jantung, dan kaki. “Kalau menyerang otak bisa stroke, (serang) jantung sebabkan penyakit jantung koroner, dan (serang) kaki sebabkan peripheral disease,” ungkap dr Ikhsan. Sedangkan, gangguan penglihatan, saraf, dan ginjal sebagai akibat serangan pada pembuluh darah kecil.
(Muhammad Saifullah )