JAKARTA genap berusia 490 tahun hari ini, Kamis (22/6/2017). Semarak perayaan hari jadi si Kota Megapolitan tersebut sudah mulai terasa sejak semalam.
Tapi, dalam rangka merayakan ulang tahun Ibu Kota Negara Indonesia kita tercinta ini, tahukah Anda apa maskot Kota Jakarta? Eits, bukan Monumen Nasional (Monas) yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata, lho! Penasaran?
Jawabannya ialah elang bondol yang mencengkram salak condet. Banyak yang salah paham kan? Monas bukanlah maskot Kota Jakarta, melainkan landmark yang dibangun untuk mengenang jasa pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia hingga terjadinya Proklamasi 17 Agustus 1945.
(foto: skyscrapercity)
Salak condet dan elang bondol merupakan maskot Kota Jakarta yang ditetapkan oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, lewat keputusan Guburnur No. 1796 Tahun 1989.
Elang bondol dipilih sebagai maskot Kota Jakarta salah satunya karena burung tersebut hanya ada di Kepulauan Seribu, Jakarta. Sedangkan, salah condet dipilih sebagai maskot Kota Jakarta karena dahulu salak jenis ini merupakan buah asli Jakarta yang tumbuh di daerah Condet.
Adapun filosofi dipilihnya elang bondol karena burung tersebut salah satu jenis burung yang dapat hidup lama, bahkan hingga 70 tahun. Selain itu, elang bondol termasuk dalam jenis unggas yang tangguh dan pantang menyerah pada keadaan.
Dalam usianya yang berkepala 4, ia dihadapkan pada keadaan yang tersulit dalam hidupnya. Bulunya kian menebal, kukunya semakin panjang, dan paruhnya tumbuh hingga ke dada, membuatnya sulit mencabik mangsa. Akhirnya, untuk dapat tetap hidup, elang bondol harus bertransformasi, yang dalam proses ini ia akan menyakiti dirinya sendiri.
Agar dapat tetap terbang bebas dan tinggi lagi, burung bondol harus mencabuti bulunya yang semakin tebal dan memberatkannya terbang itu. Bayangkan betapa dinginnya tanpa bulu dan betapa sakitnya mencabuti bulu sendiri. Kukunya pun ia cabuti sendiri. Paruhnya ia patukkan sekeras-kerasnya ke batu hingga paruh yang terus memanjang sampai dada itu terlepas. Selanjutnya, burung elang bondol harus menunggu 5 bulan lamanya untuk dapat paruh yang kuat lagi sesuai dengan kebutuhannya.
Itulah filosofi yang sangat bermakna dari hidup elang bondol. Jakarta pun diharapkan dapat jadi kota yang selalu eksis, tangguh, tegar dan tidak pantang menyerah dalam menghadapi tantangan jaman yang penuh dengan kemelut dan konflik. Maskot Elang Bondol dan Salak Condet itu bisa dilihat di kawasan Cempaka Putih. (fid)