RAMADAN menjadi salah satu bulan dimana masyarakat Indonesia bisa menyaksikan Tari Sema. Tari yang ditampilkan oleh kaum pria ini kerap ada dalam acara musik religi di Turki.
Mungkin tidak banyak masyarakat yang tahu perihal arti Tari Sema. Para penari bergerak berputar tanpa henti mengenakan pakaian putih, tangan panjang, dan bawahan seperti rok lengkap dengan celana dan kepala ditutup dengan penutup kepala seperti peci namun bentuknya lebih tinggi.
Putaran penari yang tanpa henti itulah seringkali membuat penonton bertanya-tanya apa makna dibalik gerakan berputarnya dan tangan yang seperti hendak memohon sesuatu dari atas itu. Sema atau Seb-i-Arus memiliki arti Malam Nikah atau Malam Persatuan.
Tari Sema merupakan sebuah upacara yang diadakan setiap tahun pada hari kelahiran Mevlana. Mevlana adalah sebutan untul Jalaludin Rumi, seorang ahli sufi dan guru yang sangat berpengaruh dalam ilmu pengetahuan Islam dunia.
Sebelum melakukan Tarian Sema, terlebih dulu acara dimulai dari salat subuh dan pembacaan Alquran. Pakaian yang dikenakan para penari ternyata tidak lepas dari filosofi yang memiliki arti mendalam.
Pakaian putih melambangkan kafan yang akan jadi pakaian terakhir umat muslim ketika wafat, dan topi tinggi penutup kepala melambangkan makam.
Para penari Sema diiringi oleh musik yang dimainkan di ney dan rebap, terakhir merupakan instrumen tiga senar. Gerakan berputar-putar dilakukan selama 10 menit tanpa henti. Kemudian setelah 10 menit, penari berhentu berputar, lalu berlutut. Setelah itu berdiri dan mulai berputar lagi diulang sebanyak 4 kali.
(Fiddy Anggriawan )