Satu Perahu Pinisi bisa membawa berat 100 hingga 200 ton, dan dijadikan oleh bangsa Eropa dan China sebagai transportasi membawa barang pabrik dari Singapura menuju Dobo di Pulau Aru, Nusa Tenggara Timur.
Sementara dari Indonesia sendiri, mereka membawa barang seperti bulu burung, emas, kayu cendana, cabai, dan lada hitam untuk dijual di Singapura ke toko-toko China dan India.
Sekarang, kapal layar Bugis digunakan untuk membawa barang-barang berat seperti semen, motor, rokok, dan keramik menuju pulau-pulau di Nusantara. Orang Bugis juga mengubah kapal dengan sentuhan-sentuhan modern seperti menghadirkan kasur, dapur dan toilet untuk dijadikam transportasi para penyelam yang ingin berpetualang ke Flores dan Raja Ampat.
Namun, sekarang perahu Bugis lebih besar dan banyak menduplikat gaya Barat yang terkenal dengan sebutan perahu Bugis atau perahu Patorani dan Padewakang.
(Fiddy Anggriawan )