DI Makassar ada kapal tertua yang disebut Bugis Pinisi, atau Kapal Layar khas Suku Bugis. Kapal ini begitu antik, dan kokoh karena masih ada dan bisa digunakan hingga saat ini.
Dikutip dari Indonesiatravel, Selasa (21/2/2017), kapal ini banyak digunakan orang Bugis di abad 18 atau saat Belanda menguasai Indonesia untuk menjelajah provinsi di Tanah Air.
Sejak saat itu, Suku Bugis terkenal sebagai ahli pelaut karena bisa bertahan keliling Nusantara dan beberapa di antaranya sudah tersebar di kota-kota seperti yang bisa ditemukan di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Saat Belanda menduduki Indonesia, banyak aristokrat berlayar ke Malaya atau Malaysia dan Kalimantan. Oleh karena itu, sekarang keturunan Bugis banyak ditemukan di Kalimantan Timur, Johor dan Selangor di Malaysia.
Asal mulanya, Suku Bugis sendiri berasal dari Luwu, di mana mereka membuat kerajaan di Abad 13 dan 14. Dikarenakan ahli belayar, Suku Bugis banyak dikenal sebagai jagoan di laut, bahkan Kapal Pinisi mereka terkenal sebagai perahu perdagangan di zaman dulu.
Satu Perahu Pinisi bisa membawa berat 100 hingga 200 ton, dan dijadikan oleh bangsa Eropa dan China sebagai transportasi membawa barang pabrik dari Singapura menuju Dobo di Pulau Aru, Nusa Tenggara Timur.
Sementara dari Indonesia sendiri, mereka membawa barang seperti bulu burung, emas, kayu cendana, cabai, dan lada hitam untuk dijual di Singapura ke toko-toko China dan India.
Sekarang, kapal layar Bugis digunakan untuk membawa barang-barang berat seperti semen, motor, rokok, dan keramik menuju pulau-pulau di Nusantara. Orang Bugis juga mengubah kapal dengan sentuhan-sentuhan modern seperti menghadirkan kasur, dapur dan toilet untuk dijadikam transportasi para penyelam yang ingin berpetualang ke Flores dan Raja Ampat.
Namun, sekarang perahu Bugis lebih besar dan banyak menduplikat gaya Barat yang terkenal dengan sebutan perahu Bugis atau perahu Patorani dan Padewakang.
(Fiddy Anggriawan )