FITSA Hats, dua kata ini dalam sekejap menjadi perbincangan hangat masyarakat. Orang yang mendengar kata-kata tersebut mengaitkannya dengan sebuah restoran pizza ternama di Indonesia.
Bisa jadi istilah 'Fitsa Hats' ini diucapkan dengan vokal agak berbeda dari ejaannya, salah dengar, atau bahkan merajuk pada gejala disleksia.
Disleksia merupakan bentuk kesulitan belajar, di mana seseorang memiliki kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Seorang anak mengalami diseleksia, memiliki kecenderungan sulit belajar. Kendati demikian, permasalahan ini tidak memengaruhi kecerdasan seorang anak.
Dapat dikatakan, penderita disleksia mendapatkan tantangan setiap hari, bahkan seumur hidupnya. Namun, dukungan dari orang terdekat mampu meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. Dukungan ini juga mendorong mereka sukses mengatasi persoalan ini, hingga meraih kesuksesan di dunia kerja.
Seorang anak yang mengalami disleksia dapat diketahui sejak ia duduk di bangku sekolah. Adapun beberapa gejala di antaranya membaca dan menulis sangat lambat, bingung mengurutkan huruf dan kata-kata, salah menempatkan huruf bulat (antara 'b' dan 'd'), memiliki ejaan yang buruk dan tidak konsisten, memahami informasi ketika diberitahu lisan, kesulitan menulis informasi, serta sulit melaksanakan urutan arah.
Bagaimanapun, penderita disleksia membutuhkan bantuan dan dukungan. Bila seorang anak dicurigai mengalami disleksia, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berbicara dengan guru mereka.
Membantu seorang disleksia perlu disertai dukungan ekstra. Selain latihan, penderita disleksia juga memerlukan bantuan seorang psikolog untuk mengatasi persoalan itu dan membantu mereka bisa menghadapi disleksia yang dialaminya. Selain itu, dukungan sosial juga diperlukan untuk menambah kepercayaan diri mereka.
Meski keadaan berbeda dengan orang normal lainnya, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Kecerdasan masing-masing penderita pun tidak terhalangi, meski mereka memiliki disleksia. Demikian dilansir dari laman NHS, Jumat (6/1/2017).
(Helmi Ade Saputra)