“Saya tidak pernah pakai jarum suntik untuk narkoba, ataupun tranfusi darah. Jadi saya yakin jika kena penyakit ini ya dari lelaki yang menjadi ayah anak saya. Tapi sayangnya setelah saya kasih tahu jika saya hamil, dia malah kabur,” terangnya.
Perempuan berusia 36 tahun itu pun sempat hidup menggelandang di jalanan, hingga terjaring razia petugas Satpol PP dan masuk panti sosial di Sragen. Derlina memasuki babak kehidupan baru setelah dirawat di rumah sakit karena kehamilannya semakin membesar.
“Saat hamil itu saya dirawat di RS Tugu Semarang. Saya tahunya menderita penyakit ini ya di rumah sakit, dua hari sebelum melahirkan. Sebelumnya perawat sudah pada tahu ketika memeriksa darah saya, tapi belum memberi tahu ke saya,” lugasnya.
Setelah melahirkan bayi mungil bernama Suryani Aira Asri, kemudian dia tinggal di rumah singgah untuk anak penderita HIV/AIDS di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Semarang. Awalnya, Derlina menutup diri dan enggan bersosialisasi dengan warga sekitar.
“Awalnya saya takut enggak berani keluar, tapi kemudian saya didorong untuk berani membuka diri. Ternyata benar, setelah saya keluar dan membuka diri bahwa menderita penyakit ini, ketakutan saya sirna. Warga tetap menerima saya,” katanya.