Sekolah ramah anak juga menjadi sebuah sorotan bagi orangtua dan lingkungan di sekitarnya untuk mendukung kegiatan belajar, maupun program yang dilaksanakan oleh sekolah.
"Selain itu, terdapat peran serta dari orangtua dan wali, masyarakat, alumni. Harus ada peran serta dari kegiatan yang ada di sekolah. Makanya kita libatkan alumni dan orangtua, serta masyarakat setempat, seperti Camat, ketua RT, dan warga sekitar, polsek," jelas Ratna.
Tidak hanya itu saja, komponen lainnya yang melengkapi adalah dari individu siswa dan guru itu sendiri. Sekolah yang ramah anak juga ditunjukkan melalui perilaku siswanya, yakni sekolah yang bebas bullying.
"Kegiatan belajar mengajar harus menyenangkan. Termasuk tidak ada bullying. Di sinilah tantangannya bagaimana menjadikan SMAN 3 sebagai wilayah anti bullying," tukasnya.
Ragam acara sosialisasi dan langkah-langkah antisipasi memutus senioritas dan bullying telah dilakukan Ratna. Termasuk melakukan pendekatan terhadap orangtua dan siswa. Ia bersyukur, metode yang dijalankannya memiliki dampak yang baik untuk mengurangi kasus bullying terjadi di sekolahnya.
(Vien Dimyati)