Dengan adanya kekhasan dari petikan-petikan ini, menurut Ryan, menyebabkan lirik harus sama bunyi atau rasanya dengan petikan yang dipakai. "Harus pas dengan jangkauan vokal. Misalnya mau nyanyi, petikannya apa, misalya Kembang Kacang, kita sudah hapal pengulangan ada berapa kali," katanya.
Ryan mengatakan, hal-hal tersebutlah yang selama ini tidak diketahui oleh khalayak ramai, terlebih warga Lampung sendiri. Ada sejumlah teori dan aturan yang pengetahuannya tidak bisa didapatkan dari sekolah musik manapun.
*Memang jika didengar selintas, bunyinya sama saja. Tapi inilah namanya seni. Ilmu turun temurun. Selain harus menguasai alurnya, juga harus tahu petikannya. Dahulu ilmu ini turun melalui pergaulan. Sampai ada istilah, kalau mau terkenal di kumpulan anak-anak muda, harus bisa main gitar ini," katanya.
Heri Rudianysah, seniman lainnya mengatakan, petikan gitar tunggal Lampung ini memang sangat khas. Difabel tuna netra ini mengaku ada nuansa khas yang harus dirasakan dengan kesungguhan jika ingin memainkan petikan gitar tunggal tersebut.
"Harus didengarkan dengan seksama. Memang sepertinya sama (bunyi petikannya). Tapi jika dibandingkan antara lagu yang satu dengan lagu lainnya, ada yang berbeda. Harus jeli dengernya," katanya.
(Renny Sundayani)