Richard North, Pencetus Sanggar Seni Karawitan di Amerika

Erika Lia, Jurnalis
Kamis 18 Agustus 2016 18:29 WIB
Richard North (Foto: Erika Lia/Sindo)
Share :

JATUH cinta pada gamelan membawa Richard North, 40, seorang warga negara Amerika Serikat ke tanah Cirebon. Ia mempelajari dan memperdalam seni budaya Cirebon. Bahkan, ia pun mendapat panggilan Mama Erik oleh Keraton Kacirebonan.

Kepada Koran SINDO, Mama Erik berkisah mulai mengenal gamelan sekitar 1972 di Universitas California, tempatnya mengajar dulu. Dia mengaku langsung terpesona ketika tabuhan gamelan menyapa telinganya kala itu.

"Ada perasaan istimewa saat mendengarnya. Bagi kami, warga asing, suara gamelan itu memesona," ungkapnya.

Keterpikatannya pada gamelan akhirnya membuat dia memutuskan datang ke Indonesia. Seorang teman selanjutnya membawa dia ke Cirebon dan di kota inilah, dia mengenali gamelan lebih dalam di Keraton Kacirebonan.

Richard menjadi salah satu cantrik binaan budayawan serbabisa asal Keraton Kacirebonan, Elang Yusuf Dendabrata. Dari sekedar terpesona, dia akhirnya menyelami lebih dalam gamelan hingga akhirnya lihai berbahasa Indonesia

"Elang Yusuf sendiri ketika itu khawatir banyak seni budaya yang hilang. Degung hanya ada satu lagu, gong sekati sudah tua," paparnya.

Dia pun dipesankan untuk mendokumentasikan seni gamelan yang nyaris punah untuk dilestarikan. Kecintaannya pada gamelan lantas mengantarkan Richard untuk mendirikan sanggar seni Sinar Surya, sebuah komunitas pecinta sekaligus praktisi kesenian Cirebon, di Santa Barbara, California, Amerika Serikat.

Para anggota sanggar ini sempat unjuk gigi dalam pagelaran spesial di Keraton Kacirebonan belum lama ini. Bersama sebagian anggota sanggar, Richard bersama sang istri, Felicia Dannon mempersembahkan pagelaran gamelan renteng, hasil dokumentasi timnya selama ini.

Dalam pagelaran itu, Richard tampak lihai memainkan gendang, mengalirkan irama dan lagu. Sesekali seruan khas keluar dari mulutnya, mendampingi permainan musik hingga meriuhkan lagu yang mereka perdengarkan.

"Saya merasa happy, hidup ini kan sebentar. Saya ingin menikmatinya dengan berarti," ungkapnya, kala ditanya perasaan yang muncul saat memainkan gamelan.

Pehobi selancar (surfing) ini menambahkan, gamelan telah membuatnya menciptakan sebuah rumah kedua di Cirebon. Dia mengapresiasi seni budaya Cirebon khususnya, dengan alasan kultur dan masyarakat kota ini yang telah membuatnya nyaman.

Pria yang baru saja pensiun dari profesinya sebagai dosen di California ini tak neko-neko mempelajari seni gamelan. Menurutnya, dia bukan ingin membuat dunia lebih baik melalui seni gamelan.

"I just make some friends," cetusnya seraya tersenyum dan mengakhiri percakapan santai dengan Koran SINDO.(erika lia)

(Renny Sundayani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya