PADA kesempatan hari Tanpa Tembakau Nasional, Kementerian Kesehatan RI menyoroti bahaya merokok yang berdampak terhadap penurunan kualitas generasi penerus bangsa karena terjadinya pembodohan dan pemiskinan yang berkelanjutan.
"Menurut saya di Indonesia ini rokok dianggap sebagai hal yang biasa. kalau kita bandingkan dengan masyarakat di luar negeri, masyarakatnya sudah teredukasi akan bahaya rokok," ujar Lily S. Sulistyowati, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes pada Dialog Interaktif Pengendalian Tembakau di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa 31 Mei 2016.
Salah satu faktor pemicu banyaknya perokok di kalangan anak-anak adalah bagaimana mereka mencontoh dan menyaksika orang dewasa melakukan hal tersebut.
"Misalnya saja, anak kecil diberikan permen rokok dan ke depannya si anak akan mencoba rokok sungguhan. Hal ini membuat pikiran anak-anak terpancing untuk mencoba menghisap rokok," ungkapnya.
Melihat persoalan rokok di kalangan anak-anak dan remaja yang kian meningkat seiring berjalannya waktu, tentu pencegahan yang paling mudah dilakukan adalah dari keluarga terdekat. Terutama peran orang tua sangat penting untuk membimbing anaknya untuk menerima edukasi yang baik tentang bahaya rokok.
"Menurut saya ini adalah situasi yang sangat memprihatinkan. Orangtua harus perduli dan perhatian," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)