"Syarat pertama Raja Amay harus memeluk agama Islam, kedua raja harus mengajak hulu balang atau kaula muda untuk masuk Islam dan terakhir adalah bangunlah masjid. Persyaratan ini disanggupi Raja Amay," timpalnya lagi.
Selepas dari kisah legenda yang melekat, pembangunan Masjid ini juga memiliki kisah mendalam sama seperti penamaan Hunto untuk masjid tersebut.
Tak itu saja, pembuatan masjid ini tak menggunakan bahan pada umumnya terlebih untuk perekatnya. Jaman dahulu menggunakan telur maleo.
"Masjid ini dulu dibangun tiga hari tentu saja bahan bangunan dari batang kelapa dan dinding dari bambu atau pitatea dan atapnya rumbia. Suatu saat pas sholat jumat bagian atap belum selesai dan saat itu hujan deras, anehnya tidak satupun yang basah dan ketika itu diluar sudah kebanjiran dan di masjid kering," tukasnya.
(Johan Sompotan)