Masjid Hunto Cikal Bakal Agama Islam di Gorontalo

Johan Sompotan, Jurnalis
Senin 30 Mei 2016 18:08 WIB
Masjid Hunto cikal bakal agama Islam di Gorontalo (Foto: Deendaily)
Share :

EUFORIA Ramadan tak terasa tinggal hitungan waktu, tak ada salahnya jika travellers menyelami kehadiran agama Islam di Gorontalo.

Keberadaan agama Muslim sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun, terlebih kehadiran Masjid Hunto menjadi saksi sejarah kedatangan Muslim ke tanah Gorontalo.

Bila dilihat dari luar, Masjid yang dibangun tahun 1495 masehi atau 899 hijriah ini merupakan awal mula kehadiran agama Islam di Gorontalo.

"Masjid Hunto dibangun oleh Raja Amay yang kemudian dikenal dengan Sultan Amay yang dibangun 1495 masehi atau 899 hijriah. Ini adalah situs sejarah, dimana merupakan cikal bakal masuknya islam di Gorontalo," jelas Ketua DKM Masjid Hunto Haji Syamsuri kepada Okezone di Gorontalo, belum lama ini.

Ternyata nama Hunto bukanlah nama sembarangan, namun memiliki arti terdalam bagi warga Gorontalo.

"Saat dibangun, warga Gorontalo menamakan Hunto artinya Ilohuntonga (pusat atau basis) semua berkumpul disini. Disini adalah titik pertemuan pertama kali di Gorontalo sehingga dibangun masjid," paparnya lagi.

Selain itu, kehadiran Masjid Hunto tak terlepas dari kisah legenda yang muncul di kala itu. Dimana, Raja Amay adalah raja bijaksana, konon beliau pada masa itu sudah balik dari Ternate karena merantau dan akhirnya kecantol dengan putri raja yang berasal dari Moutong atau Raja Plasa bernama Raja Ogome Jolo.

"Raja Plasa memiliki Putri bernama Boki Autango, saking cantiknya Raja Amay sebagai pemuda ganteng dia meminang langsung kepada raja," paparnya lagi.

Tak itu saja, dirinya menuturkan kala itu Raja Plasa tak langsung setuju. Pasalnya, Raja Amay harus memenuhi tiga syarat.

"Syarat pertama Raja Amay harus memeluk agama Islam, kedua raja harus mengajak hulu balang atau kaula muda untuk masuk Islam dan terakhir adalah bangunlah masjid. Persyaratan ini disanggupi Raja Amay," timpalnya lagi.

Selepas dari kisah legenda yang melekat, pembangunan Masjid ini juga memiliki kisah mendalam sama seperti penamaan Hunto untuk masjid tersebut.

Tak itu saja, pembuatan masjid ini tak menggunakan bahan pada umumnya terlebih untuk perekatnya. Jaman dahulu menggunakan telur maleo.

"Masjid ini dulu dibangun tiga hari tentu saja bahan bangunan dari batang kelapa dan dinding dari bambu atau pitatea dan atapnya rumbia. Suatu saat pas sholat jumat bagian atap belum selesai dan saat itu hujan deras, anehnya tidak satupun yang basah dan ketika itu diluar sudah kebanjiran dan di masjid kering," tukasnya.

(Johan Sompotan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya