MUNGKIN tak sedikit dari masyarakat mengenali kanker nasofaring. Kanker nasofaring disebabkan Epstein-Barr Virus. Di Indonesia, kanker nasofaring berada di urutan ke-4 sebagai kanker terbanyak di Indonesia setelah kanker leher rahim, kanker payudara, dan kanker paru.
"Gejala kanker nasofaring dibagi menjadi empat bagian, yaitu mimisan dan juga benjolan di leher, terasa sumbatan di hidung, gejala pilek yang lama seperti sinusitis, serta nyeri pada bagian mata atau kepala," tutur Dr. dr. Cita Herawati, SpTHT-KL, pada acara "Pengobatan Paripurna pada Kanker Nasofaring" di Grand Sahid Jaya, Rabu (25/5/2016).
Dr. Cita juga menyarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter, jika menemukan gejala seperti ini. Pada umumnya, kanker nasofaring ditemukan pada pria dibandingkan wanita.
"Kita semua punya potensi kanker nasofaring. Namun, apa pemicunya, itulah yang bisa membuat kanker berkembang," tambah dr. Cita.
Pada umumnya, kanker nasofaring ini terjadi pada masyarakat di negara berkembang. Dr. Cita mengatakan bahwa para pekerja pabrik sangat berpotensi sebagai sasaran kanker nasofaring.
"Biasanya di lingkungan pabrik, dimana orang bersinggungan terus dengan debu dan metal bisa menjadi pemicu. Bahkan merokok, asapnya juga bisa memicu terjadinya kanker nasofaring," pungkasnya.
Dr. Cita juga menjelaskan terjadinya kanker nasofaring dapat menyebar ke organ hati dan tulang, sehingga dibutuhkan pengobatan secara sistemik. Seperti biopsi (setelah terdeteksi kanker) dan juga CT scan, USG perut, dan tulang.
(Helmi Ade Saputra)