PERAYAAN tradisi Maulid Nabi Muhammad di Aceh diwarnai dengan sajian aneka kuliner tradisional. Satu diantaranya adalah bu kulah yang sudah menjadi menu wajib tiap khanduri (kenduri) maulid.
Bu kulah adalah nasi putih dibungkus dengan daun pisang yang sudah dibakar di atas bara api hingga terlihat hijau mengilap. Bentuknya mengerucut seperti piramida. Rasanya sungguh lezat dan khas. Aroma daun pisang yang sudah dibakar semerbak, berpadu dengan wangi khas nasi putih, sangat menggugah selera.
Bu kulah merupakan menu pokok yang disantap dengan aneka lauk-pauk atau kuah beulangong, kuah daging yang dimasak dengan rempah-rempah dalam belanga besar.
Kuliner ini disuguhkan kepada para undangan dalam hajatan khanduri (kenduri) mulod alias Maulid Nabi yang digelar di masjid-masjid, meunasah-meunasah bahkan di rumah warga masing-masing.
Biasanya bu kulah dibuat oleh warga di rumahnya masing-masing kemudian disumbangkan secara sukarela ke masjid atau meunasah, tempat digelarnya kenduri maulid. Selain bu kulah, warga juga menyumbang aneka lauk pauk yang ditutup sangee (tudung saji) kemudian dibungkus kain warna warni.
Bagi masyarakat Aceh kenduri Maulid Nabi tanpa bu kulah, rasanya tidak lengkap.
"Mulod tanpa bu kulah sama dengan kenduri biasa, enggak ada yang khas," kata Zulkifli, warga Gampong Blang Usi, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh disela menikmati sebungkus bu kulah saat kenduri maulid di rumahnya, Minggu (17/1/2016).
Jadi, bila anda ingin menikmati kuliner ini secara khas, datanglah ke Aceh pada Rabiul Awal, bulan yang penuh dengan perayaan tradisi maulid di berbagai daerah di bumi Serambi Mekkah.