UNTUK sebagian pria, jam tangan adalah aksesoris antik yang memberitahu posisi waktu sebelum teknologi layar sentuh mengambil alih. Meski begitu, masih banyak juga pria yang merasa tak perlu memakai jam tangan, jadi mereka ‘telanjang’ tak berjam-tangan.
Jadi, apakah jam tangan benar-benar diperlukan di era dimana ponsel pintar pun sudah bisa mengantarkan ketepatan waktu?
Ini sederet poin kenapa pria tetap harus mengenakan jam tangan. Suka atau tidak.
Jam tangan adalah salah satu aksesoris perhiasan yang pantas dipakai pria
Well, meski sekarang negeri ini kembali ke zaman batu dengan bermunculannya banyak pria (tua-muda) memakai batu akik, pria dengan jam tangan tetaplah punya gengsi elegan. Jam tangan tetap lebih berkesan maskulin!
Makin tua, makin mantap!
Jika Anda muncul dengan Jaguar mutakhir F-Type, Anda memang kelihatan wah. Tapi jika ternyata tangan mengendarai setir Shelby 427 Cobra keluaran 1966, Anda lebih kelihatan mantap! Siapa yang berani merendahkan esensi mobil klasik?
Tak semua jam tangan luks berkekuatan setara
Meski kelihatannya jam tangan-jam tangan luks itu mahal dan bergengsi, tak semuanya punya kekuatan setara. Masing-masing punya kelebihan, kekurangan dan kekuatan eksistensi tersendiri. Jadi jangan terburu-buru membeli jam tangan yang mengkilat dan mahal!
Besar tak berarti lebih oke!
Era jam tangan dengan besarnya behemoth 46mm+ sudah berakhir. Selanjutnya, ukuran 42 adalah 44 terbaru dan 38.5 adalah 40 yang paling mutakhir. Begitulah itu terjadi terus-menerus. Sensasi dan alasan utama memakai jam tangan selalu akan berpulang pada desainnya sendiri.
Bukan karena tren
Ya, sama seperti Anda lebih suka memakai pakaian di seputaran warna abu-abu, putih dan biru dongker, memakai jam tangan adalah identitas diri pribadi yang paling aktual. Jadi, jangan pernah membeli jam tangan karena brand dan desainnya sedang tren. Kenakanlah karena itu memang jadi pelengkap identitas diri Anda!