Sesuai namanya, Pou Hari diadakan sebagai ungkapan syukur atas berkah dari laut bagi masyarakat setempat, berupa ikan-ikan yang terdampar di pantai akibat arus dingin laut sepanjang bulan September dan Oktober.
"Pou Hari adalah kearifan lokal yang sudah berlangsung ratusan tahun sebagai bentuk penghargaan atas berkah dari alam selama setahun," kata ketua panitia Festival Bahari Alor 2015, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Alor, Euis Harnesa.
Ritual Pou Hari dimulai dengan tarian penyambutan Lego-Lego oleh sekelompok perempuan dari suku Malolong yang mengenakan kain tradisional dan pembacaan mantra di rumah adat Kamusi.
Peserta kemudian menyeberang ke Pulau Kepa untuk memasak sesajen berupa daging ayam, kambing dan beras, dan melarungkannya ke laut.
Festival ini juga dimeriahkan dengan adanya pasar kaget yang menjual berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari kue khas NTT hingga kain tenun tradisional.
Pada puncak festival, diadakan upacara megah Gala Soro yang melibatkan lebih dari 50 kapal hias. Tradisi warisan zaman perang ini dahulu diadakan untuk menyambut panglima perang yang berhasil memenangkan pertarungan adat.