Pasalnya, menemukan passion tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini pula yang terjadi pada Aditiyo, seorang konsultan karier dan pemilik Career Guide Indonesia. Setelah berkarier di tujuh perusahaan multinasional dalam kurun waktu 11 tahun, ia menyadari jika passion-nya bukan sebagai profesional, tapi sebagai konsultan, pembicara, dan orang yang setiap hari berinteraksi dengan orang baru.
“Saya ini dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat eksakta. Profesinya kalau bukan dokter ya insinyur. Tapi di lain pihak, kok sepertinya saya justru lebih suka ngobrol, mendengarkan orang, dan lebih suka tampil. Akhirnya saya memilih IPS,” ucapnya pada Okezone di bilangan Semanggi, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Situasi seperti ini pasti banyak dialami oleh anak muda di luar sana. Orangtua masih berpikir jurusan peluang memilih jurusan kuliah bagi anak IPA lebih luas. Akibatnya IPS sering dipandang sebelah mata.
“Untungnya orangtua bukan tipe yang melarang. Tapi perjalanan hidup masih belum selesai karena saya belum tahu mau berkarier di bidang apa. Akhirnya saya berpikir jurusan mana yang nantinya paling menghasilkan uang. Dari jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, akhirnya saya pindah ke Akuntansi.”
Selulusnya dari UI jurusan akuntansi, ia memang diterima di perusahaan minyak bergengsi milik Prancis bernama Schlumberger. Pekerjaannya sebagai akuntan mengharuskannya duduk di belakang meja, menghitung uang, dan menghitung pajak. “Kalau jam istirahat kantor dan ketemu sama orang, senangnya minta ampun. Waktu itu mindset-nya masih uang,” katanya tanpa segan.
Setahun kerja di Schlumberger, Aditiyo memutuskan untuk mengambil S2 bidang marketing. Lagi-lagi kemujuran menghampirinya, ia diterima di L’OREAL Indonesia.
“Delapan bulan jadi marketing, tiba-tiba dikirim ke lapangan disuruh jadi sales. Persepsi orang tentang sales kan ketok-ketok pintu untuk menawarkan barang dan sering diusir pula. Waktu itu sempat down.”