SETIAP bulan, seorang wanita yang sudah melewati masa puber pasti akan mengalami haid. Pemilihan pembalut yang tepat merupakan salah satu cara untuk menyerap darah haid yang keluar. Namun, masih ada beberapa wanita yang lebih nyaman menggunakan tampon yang juga berfungsi sebagai pembalut. Namun, tahukah Anda bahwa menggunakan tampon dalam jangka waktu yang lama bisa memicu toxic shock syndrome, bahkan kematian?
Menurut dr Agus SpOG dari RS Fatmawati, Jakarta Selatan, toxic shock syndrome (TSS) adalah infeksi dari bakteri yang tumbuh di dalam tampon dan masuk ke dalam tubuh melalui vagina. Bakteri tersebut kemudian masuk ke aliran darah sehingga menimbulkan gejala-gejala, seperti mual, muntah, pusing, gatal, dan merasa lemah. Jika tidak segera diobati, penderita bisa meninggal dunia.
Kasus TSS dapat terjadi pada wanita yang menggunakan tampon pada saat menstruasi. Dari sejumlah kasus yang ada, TSS lebih banyak dialami oleh wanita yang berusia di bawah 30 tahun. Untuk saat ini, tampon memang sangat jarang atau bahkan tidak lagi dipergunakan. Namun pada era 90-an, banyak wanita yang menggunakan tampon vagina pada saat haid karena tampon dipercaya memiliki daya serap yang sangat tinggi. "Dulu memang banyak sekali. Tapi kalau sekarang saya tidak menemukan," ungkap dr Agus.
Berfungsi seperti pembalut
Fungsi tampon sebetulnya sama dengan pembalut, yakni menyerap darah haid. Tampon terbuat dari bahan lembut, berbentuk silinder dan tersedia dalam berbagai ukuran. Cara pemakaiannya adalah dengan memasukkan tampon ke liang vagina dengan bantuan jari tangan. Tampon biasa digunakan dalam situasi tertentu, misalnya saat harus mengenakan gaun ketat.
Banyak wanita yang khawatir untuk menggunakan tampon lantaran tampon dapat lenyap dalam tubuh atau dapat menghilangkan keperawanan karena dapat merusak selaput darah. Perlu diingat pula bahwa tampon yang dimasukkan ke dalam vagina dan digunakan sebelum melakukan hubungan seks akan menembus dan melukai selaput darah, terutama jika selaput darahnya rentan atau mudah robek. "Sebetulnya tampon tidak akan lolos dan masuk ke dalam rahim karena mulut rahim terlalu kecil untuk dapat meloloskan tampon. Selain itu, pada ujung tampon juga terdapat tali yang memudahkan kita untuk menariknya keluar," kata dr Agus. (Genie)
(Renny Sundayani)