KITA sering kali mendengar kasus para selebriti yang terlibat dengan masalah hukum atau kehidupan pribadi yang terlalu penuh drama. Dari sekian banyak alasan, gangguan bipolar (GB) adalah salah satu penyebab dari masalah yang menjebak para selebriti.
GB adalah satu penyakit kompleks yang ditandai dengan perubahan suasana hati dari normal ke gejala depresi atau mania. Oleh karena itu, ini disebut juga penyakit gangguan suasana hati, bukan kepribadian ganda, kata Natalia Widiasih, psikiater dari RSCM Jakarta, saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebut saja Marshanda, Catherine Zeta Jones, Britney Spears, Chris Brown, mereka adalah di antara banyak artis yang mengalami gangguan suasana hati ini. Tak hanya mereka, orang-orang yang berkecimpung di bidang seni lainnya, juga rentan dengan GB, contohnya pelukis Van Gogh dan komposer Scuberth yang mati karena sipilis yang disebabkan gejala manik bipolarnya.
"Gangguan bipolar bisa terjadi pada siapa pun. Namun, satu penelitian menemukan bahwa bipolar 66 persen didapat mereka yang biasa mendapat penghargaan seperti penulis, sastrawan, pelukis, atau pemahat patung. Penyakit kelainan suasana hati ini 40 persen dialami selebriti dan 80 persen pada penulis kreatif," papar Natalia.
Kapan bipolar rentan terjadi? Survei menunjukkan GB rentan muncul pada remaja usia 15-19 tahun. Hal ini dikarenakan remaja pada usia tersebut sedang mengalami perubahan bentuk tubuh dan mencari identitas atau jati diri, kata Natali.
"Puncak kerentanan kedua banyak didapat mereka yang berusia 20-24 tahun. Ini banyak terjadi pada golongan dewasa muda yang mulai mendapat stressor yang tinggi dari lingkungan, baik dalam hal karir, pendidikan, atau keluarga," jelasnya.
Kiranya ada tiga tipe pasien GB, yaitu GB dengan kecenderungan depresi lebih sering, kecenderungan manik, atau campuran. GB dengan kecenderungan manik atau GB 1 berkisar 2,4 persen, sedangkan GB depresi atau GB 2 lebih tinggi dengan kisaran kasus 0,3-4,8 persen.
"Penyakit ini kekambuhannya mencapai lebih dari 90 persen. Meski dari penelitian prevalensi masyarakat dengan GB hanya 1 persen. GB sering kali salah didiagnosis, pasien yang sedang kambuh dan terjebak dalam perilaku yang salah sering dianggap kriminal, padahal pencetusnya GB," tambahnya.
(Renny Sundayani)