"Sebenarnya kalau mau lembur-lembur dan buka full sampai malam, habisnya ingkung bisa lebih dari sekian. Namun karena keterbatasan tenaga, maka kami batasi," tegas Yudi.
Kebanyakan pengunjung Warung Ingkung Ndeso berasal dari luar kota, seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Tangerang, dan sebagainya. Mereka penasaran menikmati ayam olahan khas Bantul.
Untuk bahan baku, Yudi justru mengaku tidak terlalu sulit. Warungnya selalu mendapatkan suplaian ayam dari tiga pedagang. Meski demikian, harga bahan baku mengalami kenaikan pasca-Lebaran.
"Pedagang yang menyetor ke warung saya dari Triwidadi dan Guwosari Pajangan. Kita pertahankan ingkung dari ayam kampung asli yang liar bukan hasil budidaya. Konon kualitas rasa juga berbeda," tegas Yudi.
(Tuty Ocktaviany)