Kasus Lain Kesalahan Pemberian Obat Anestesi

Erika Kurnia, Jurnalis
Rabu 18 Februari 2015 14:57 WIB
Kesalahan pemberian obat anestesi (Foto: Ijaweb)
Share :

Dokter anestesi memutuskan untuk memberi anestesi spinal dan meminta teknisi untuk memberinya 1,5% bupivacaine. Teknisi di ruang operasi mengambil ampul dari kotak dan memberikannya kepada ahli anestesi. Anestesi disuntikkan ke sistem saraf pusat pasien setelah konfirmasi cerebrospinal fluid (CSF).

Sekitar tiga menit setelah injeksi obat, pasien mulai uring-uringan dan mengeluh sakit dari pinggang ke ekstremitas bawah (tungkai). Pasien menjadi tidak tenang dan mengeluh pusing. Akibatnya, anestesi umum diberikan untuk mengatasi perdarahan vagina dan distres pada janin.

Bayi kembar pasien berhasil dikeluarkan, namun ibunya kurang beruntung. Sang pasien mengalami kejang-kejang yang konsisten dan parah di kakinya, dan detak jantung yang abnormal. Setelah berkonsultasi dengan ahli saraf, reaksi fatal akibat penggunaan anestesi spinal diteliti ahli dari Kermanshah University of Medical Sciences.

“Setelah pengkajian ulang terhadap kontainer obat yang digunakan, kami menemukan ampul asam tranexamic kosong, bukannya ampul bupivacaine. Asam tranexamic bukanlah obat rutin di ruang operasi kami, tapi itu baru saja digunakan untuk mengontrol pasien bukan kandungan yang mengalami pendarahan beberapa minggu lalu,” tulis mereka, seperti dikutip pada Rabu (18/2/2015).

Ketika ampul bupivacaine dibandingkan dengan ampul asam tranexamic, ditemukan bahwa keduanya memiliki volume atau ukuran, warna, bentuk, dan huruf pada label yang sama.

(Renny Sundayani)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya