Pada penelitian yang diterbitkan pada 2012, Allan Pacey, dosen andrologi (studi reproduksi laki-laki) di University of Sheffield, menemukan bahwa pria yang memakai celana dalam ketat memiliki konsentrasi sperma yang bergerak lebih lemah dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai celana longgar seperti boxer.
"Hal ini menunjukkan bahwa membiasakan diri memakai celana dalam longgar dapat menjadi cara murah untuk membantu mengatasi masalah kesuburan," kata Profesor Pacey, sebagaimana dilansir dari Dailymail, Selasa (13/1/2015).
Kemudian, studi unik oleh Profesor Ahmed Shafik, seorang peneliti fisiologi seksual manusia, menemukan bahwa anjing yang dibuat untuk memakai celana dalam poliester selama dua tahun mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah sperma, pergerakan sperma, dan peningkatan sperma rusak.
Kondisi tersebut kemudian berubah setelah celana dalam poliester dilepas atau diganti dengan celana dalam katun. Profesor Shafik kemudian melakukan penelitian pada manusia pada 1999, dengan hasil yang sama seperti penelitian sebelumnya pada binatang.
Empat dari 11 laki-laki yang dibiasakan memakai celana dalam poliester mengalami pengurangan jumlah sperma setelah 14 bulan. Untuk kembali ke kondisi normal, mereka menunggu enam bulan setelah berhenti memakai celana dalam dengan bahan panas tersebut.
(Renny Sundayani)