Para pejabat CDC merekomendasikan pemberian prosedur kepada pria yang telah aktif secara seksual dan belum menjalani sunat, mengingat sunat juga bermanfaat bagi pria dewasa juga. Ini terutama dikhususkan pada pria yang dianggap lebih berisiko tertular HIV.
Namun, pedoman CDC yang masih diberikan kesempatan untuk dipertimbangkan masyarakat selama 40 hari ke depan, berpotensi untuk menarik oposisi dari kelompok advokasi antisunat. Meskipun telah dipraktekkan oleh penganut Yahudi dan Muslim selama ribuan tahun, praktek sunat belum umum dikenal di Amerika Serikat sampai abad ke-20.
Dalam sejarah, diperkirakan hanya 25 persen dari bayi laki-laki Amerika disunat pada tahun 1900. Ini secara bertahap menjadi norma budaya pada 1950-an dan 1960-an hingga melampaui 80 persen. Tapi, kemudian tren menjadi terbalik.
Hal ini disebabkan oleh perubahan demografi, terutama saat penduduk Amerika Serikat mulai diramaikan oleh pertumbuhan keturunan Meksiko-Amerika dan kelompok etnis lainnya yang tidak menjadikan praktek sunat sebagai tradisi.
Pada tahun 2010 tingkat bayi yang disunat turun menjadi sekitar 58 persen, menurut perkiraan CDC. Walau demikian, kini lebih banyak bukti medis yang mendukung praktek ini, terutama dari tiga studi berpengaruh di Afrika yang membuktikan manfaatnya bagi pengendalian penyebaran HIV dan penyakit menular seksual lainnya.
(Renny Sundayani)