Dewi juga menyayangkan sulitnya mengedukasi laki-laki, khususnya seputar kanker serviks, karena budaya tabu. Padahal menurut Dewi, kepahaman tentang tubuh dan penyakit wanita harus dipahami laki-laki agar bisa disampaikan kekerabat wanita mereka.
“Laki-laki pun harus paham, karena mereka punya ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan isteri. Jadi mereka pun harus mau memahami dan menghargai. Begitu juga perempuan dengan pendamping laki-laki, mereka harus memahami apa yang dimiliki laki-laki,” tambahnya.
Wanita yang mulai menjadi duta kanker sejak tahun 2007 ini, mengharapkan agar masyarakat mulai meninggalkan ketabuan, khususnya yang menyangkut tubuh manusia dan kesehatan.