ABU vulkanik dari erupsi gunung Sinabung berdampak buruk bagi kesehatan, seperti paru. Selain itu, efek tersebut juga rentan pada anak-anak dan orangtua.
Menurut Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Sumatera Utara dr Delyuzar SpPA, butiran debu dari erupsi gunung Sinabung memiliki berbagai ukuran. Mulai dari kecil hingga besar dan tergantung mana yang masuk ke paru.
“Kalau bagi penderita asma dapat menyebabkan penyakitnya itu kumat,” ujarnya di Medan, Kamis (9/10/2014).
Selain dapat menyebabkan kekambuhan penyakit asma, butiran debu tersebut juga bisa memicu bronchitis.
Namun yang berat, partikel yang masuk dalam paru menyebabkan adanya benda asing di dalam paru.
“Kalau terjadi peradangan lebih ke bawah, bisa terjadi gangguan pada paru. Tapi saat ini, partikelnya belum sampai kepada level dengan tingkat konsentrasi yang besar, belum sampai kesitu. Tetapi mungkin untuk daerah yang dekat Sinabung, bisa saja sudah sampai ke level itu,” jelas Delyuzar.
Kondisi cuaca yang tidak disertai dengan adanya hujan, katanya, juga dapat menyebabkan masuknya partikel debu ke paru bila berada di ruang terbuka. “Yang ditakutkan kalau tidak ada hujan di Medan, level tingkat konsentrasinya bisa tinggi. Dalam waktu yang lama terpapar partikelnya bisa menyebabkan fibrosis paru atau terbentuknya jaringan ikat,” jelasnya.
Pengaruh abu dari partikel gunung Sinabung, terangnya lagi, terutama sangat rentan kepada orangtua dan anak-anak apalagi dengan daya tahan tubuh yang rendah.
“Kalau anak-anak bisa menyebabkan alergi, tapi tergantung besarnya partikel dari abunya,” imbuh dokter spesialis patologi dan anatomi ini.
Untuk itu, dia menyarankan pencegahan yang utama adalah memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah kalau tidak penting untuk menghindari terpapar langsung.
“Daya tahan tubuh juga lebih bagus jika dibarengi dengan mengonsumsi buah-buahan, sayur, dan banyak minum,” tutupnya.
Sementara dua orang tim surveilans wabah dan bencana dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut hari ini berangkat ke Kabupaten Karo dengan membawa tiga kotak masker di mana satu kotak berisi sekitar 2.000 masker.
“Kita sudah kordinasi dengan kepala dinas kesehatan Karo kalau saat ini mereka butuh masker. Makanya tim surveilans wabah dan bencana berangkat kesana membawa tiga kotak masker. Kita juga menawarkan MPASI, kalau mereka perlu akan kita kirim,” kata Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinkes Sumut dr NG Hikmet.
Sedangkan mengenai obat-obatan, ujarnya, sampai saat ini belum ada permintaan ke Dinkes Sumut. “Belum ada permintaan ke kita, kalau mereka minta kita akan mengirimnya,” pungkas Hikmet.
(Ainun Fika Muftiarini)